Punya Harta Triliunan Tapi Pilih Makan di Pinggir Jalan: Mengenal Jusuf Hamka, Sang Raja Jalan Tol yang Hidupnya Bikin Terenyuh

Umum16 views

Punya Harta Triliunan Tapi Pilih Makan di Pinggir Jalan: Mengenal Jusuf Hamka, Sang Raja Jalan Tol yang Hidupnya Bikin Terenyuh

Di tengah gemerlap kehidupan jetset para pengusaha papan atas Indonesia, terselip sebuah nama yang justru lebih sering terlihat duduk di bangku kayu warung tegal (warteg) atau makan di pinggir jalan. Beliau adalah Mohammad Jusuf Hamka, atau yang akrab disapa Babah Alun.

Siapa sangka, pria yang tampil dengan kaos berkerah sederhana ini adalah bos besar dari PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP), raksasa infrastruktur yang mengelola berbagai ruas jalan tol di tanah air. Harta triliunan rupiah tak membuatnya silau; bagi Jusuf Hamka, hidup adalah tentang seberapa banyak manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain.

Jejak Spiritual: Dari Alun Joseph Menjadi Anak Angkat Buya Hamka
Lahir dengan nama Jauw A Loen pada tahun 1957, perjalanan spiritual Jusuf Hamka dimulai pada usia 23 tahun. Tergerak oleh hidayah, ia mendatangi Masjid Agung Al-Azhar untuk memeluk Islam. Di sana, takdir mempertemukannya dengan ulama besar Buya Hamka.

Di bawah bimbingan Buya, Alun resmi menjadi mualaf dan diberikan nama Jusuf Hamka. Hubungan mereka begitu dekat hingga Jusuf diangkat sebagai anak oleh Buya Hamka dan Nelly Adam Malik. Sejak saat itu, nilai-nilai Islam yang moderat dan penuh kasih sayang menjadi pedoman hidupnya dalam berbisnis maupun bermasyarakat.

Raja Jalan Tol yang Anti-Gengsi
Kiprahnya di dunia bisnis dimulai dari bawah. Meski pernah mengenyam pendidikan di berbagai universitas ternama, Jusuf mengaku tidak pernah menuntaskan kuliahnya karena ia adalah orang yang pragmatis dan anti-formalitas. Ia lebih suka belajar langsung dari kerasnya kehidupan.

Ketekunannya membawanya ke puncak kesuksesan sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia dalam bidang jalan tol. Namun, alih-alih membangun benteng kemewahan yang tertutup, Jusuf justru membuka diri. Ia sering tertangkap kamera sedang membantu warga, makan bersama sopir truk, atau sekadar bercengkerama dengan pedagang kaki lima tanpa ada jarak.

Filantropi Nyata: Nasi Kuning dan Masjid 1.000 Rupiah
Salah satu aksi sosialnya yang paling melegenda adalah Warung Nasi Kuning Podjok Halal. Di sini, kaum duafa bisa makan kenyang hanya dengan membayar Rp3.000, atau bahkan gratis bagi yang benar-benar tidak mampu.

Tak hanya urusan perut, Jusuf juga memiliki visi membangun 1.000 masjid dengan arsitektur oriental yang khas. Salah satunya adalah Masjid Babah Alun yang megah di bawah kolong jalan tol Tanjung Priok. Baginya, masjid harus menjadi tempat yang nyaman bagi siapa saja, sekaligus simbol bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam (Rahmatan lil ‘Alamin).

Keteladanan yang Tak Lekang Waktu
Kehidupan Jusuf Hamka memberikan pelajaran berharga bagi kita semua: bahwa kekayaan sejati tidak diukur dari angka di rekening bank, melainkan dari sisa makanan yang kita bagikan dan kebahagiaan orang lain yang kita ciptakan.

“Harta hanya titipan, kalau tidak digunakan untuk menolong orang, kita hanya jadi penjaga harta,” itulah pesan yang tersirat dari setiap langkahnya. Jusuf Hamka telah membuktikan bahwa menjadi “Sultan” yang sesungguhnya adalah mereka yang mampu merendahkan hati untuk mengangkat derajat sesama. (Wikipedia)

#JusufHamka #BabahAlun #Inspirasi #InspirasiHidup #TokohInspiratif #Motivasi

News Feed