Ket.Gambar : Tampak R. Panca Nur, Penggagas sekaligus Inisiator Gerakan Sadar Budaya Betawi, saat menyampaikan pidato nya, (foto: istimewa)
Jakarta KESBANG||NEWS— Menjelang Ramadan 1447 Hijriah serta dalam semangat menyongsong lima abad Kota Jakarta, Dewan Adat Badan Musyawarah Betawi menggelar kegiatan Silaturahmi dan Konsolidasi Pelestarian Budaya Betawi bersama Laskar Adat Betawi di MAKO (Markas Komando) Laskar Adat Betawi, Gedung PUPR, Senin (16/2). Kegiatan tersebut dihadiri oleh para tokoh budaya Betawi, tokoh nasional, akademisi, serta kalangan intelektual yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian dan masa depan budaya Betawi.
Kegiatan yang mengangkat tema “Meneguhkan Langkah LAB Bersama DABB dalam Menjaga dan Mengawal Perda 4/2015 Pelestarian Budaya Betawi di Kota Global Menuju 5 Abad Kota Jakarta” dengan subtema “Pengukuhan Tim Inti LAB” tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat konsolidasi gerakan budaya Betawi sekaligus meneguhkan komitmen bersama menjaga nilai-nilai adat dan kebudayaan Betawi di tengah dinamika perkembangan Jakarta sebagai kota global.
Dalam kesempatan tersebut, R. Panca Nur, Penggagas sekaligus Inisiator Gerakan Sadar Budaya Betawi, menyampaikan pidato yang menekankan pentingnya kesadaran budaya sebagai fondasi utama keberlangsungan budaya Betawi. R. Panca Nur yang juga merupakan Ketua Yayasan RPN Center, Sekretaris Jenderal Forum Aliansi Masyarakat Anti Korupsi (Formasi), serta bagian dari Dewan Adat Badan Musyawarah Betawi, menegaskan bahwa kebudayaan tidak akan mampu bertahan tanpa kesadaran kolektif masyarakatnya.
Menurutnya, budaya Betawi sejatinya tidak dapat berjalan tanpa adanya kesadaran dari masyarakat Betawi sendiri untuk menjaga dan merawatnya.
“Budaya Betawi sejatinya tidak bisa berjalan tanpa adanya rasa kesadaran. Karena itu pada bulan Oktober 2025 lalu kita telah menggelar Gerakan Sadar Budaya di Kota Tua Jakarta. Kegiatan itu menjadi titik nol pembenahan budaya Betawi ke depan,” ujar Panca dalam pidato nya yang juga turut hadir Laksdya TNI (Purn) Dadang Irianto Dewan Penasihat Dewan Adat Bamus Betawi.
Ia menjelaskan bahwa istilah “titik nol” merupakan simbol awal kebangkitan kesadaran budaya Betawi, yang dimaknai sebagai poros pertama gerakan untuk membangun kembali kesadaran moral dan tanggung jawab terhadap kebudayaan sendiri.
“Titik nol itu adalah poros pertama kali untuk kita melek terhadap budaya sendiri. Sadar budaya tidak lahir begitu saja, tetapi harus diperjuangkan dan dibangun bersama,” tegasnya.
Menurut Panca, gerakan sadar budaya tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga integritas moral dalam pengelolaan kebudayaan. Ia menyinggung momentum penting ketika komunitas Betawi melalui forum-forum kebudayaan berani mengungkap dugaan praktik korupsi di lingkungan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta sebagai bagian dari perjuangan moral menjaga marwah budaya Betawi.
Ia menyebutkan bahwa langkah tersebut merupakan inisiatif bersama dirinya dan sejumlah aktivis kebudayaan yang tergabung dalam organisasi Forum Aliansi Masyarakat Anti Korupsi (Formasi), yang bergerak secara nasional dalam memperjuangkan transparansi dan integritas.
“Betawi harus menjadi garda terdepan dalam perjuangan moral, termasuk dalam melawan praktik-praktik yang merusak kebudayaan. Dari situlah kesadaran budaya lahir, bukan sekadar slogan tetapi tindakan nyata,” katanya.
Dalam perjuangan tersebut, Panca mengaku menghadapi berbagai tekanan dan tantangan, mulai dari caci maki hingga ancaman, ketika upaya pengungkapan kasus dugaan korupsi di sektor kebudayaan mulai mencuat ke publik.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa perjuangan untuk menjaga marwah budaya Betawi harus tetap dilanjutkan dengan keberanian dan keteguhan moral.
“Pejuang akan bertemu pejuang, dan mereka yang munafik akan berkumpul dengan yang munafik. Dalam perjuangan membela budaya Betawi, kita harus berani berdiri tegak,” ujarnya ditengah pidato nya yang juga turut hadir Laksdya TNI (Purn) Dadang Irianto Dewan Penasihat Dewan Adat Bamus Betawi.
Dalam pidatonya, Panca juga mengaitkan semangat gerakan sadar budaya dengan komitmen nasional dalam pemberantasan korupsi sebagaimana pernah disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto, yang menekankan bahwa melawan korupsi merupakan amanat negara dan membutuhkan kesadaran bersama seluruh elemen bangsa.
Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan gerakan moral yang sedang dibangun oleh masyarakat Betawi melalui kesadaran budaya dan integritas dalam pengelolaan kebudayaan.
“Ini adalah amanat negara. Melawan korupsi membutuhkan kesadaran bersama. Orang-orang yang memiliki pemikiran yang sama akan bergerak bersama untuk tujuan yang sama,” katanya.
Ia menegaskan bahwa gerakan sadar budaya merupakan titik nol poros moral Betawi, yaitu sebuah titik awal kebangkitan kesadaran kolektif masyarakat Betawi untuk menjaga adat dan kebudayaan secara lebih serius dan bertanggung jawab.
“Akhirnya di situlah titik nol poros moral Betawi ada. Bukan berarti yang lain tidak bermoral, tetapi ini adalah titik awal kesadaran yang harus kita bangun bersama,” ungkapnya.
Melalui forum silaturahmi tersebut, Panca juga mengajak generasi muda Betawi untuk tumbuh bersama dalam semangat pengabdian terhadap adat dan kebudayaan.
Ia menegaskan bahwa masa depan budaya Betawi sangat ditentukan oleh kesediaan generasi penerus untuk terlibat langsung dalam perjuangan pelestarian budaya.
“Saya ingin generasi muda Betawi memiliki semangat untuk peduli terhadap kebudayaannya. Mari kita berbuat dan berdedikasi untuk adat dan budaya Betawi,” ujarnya.
Sebagai bagian dari keluarga besar Dewan Adat Badan Musyawarah Betawi, Panca juga menyerukan pentingnya persatuan masyarakat Betawi dalam satu rumah besar kebudayaan.
Menurutnya, Dewan Adat Badan Musyawarah Betawi harus menjadi ruang bersama yang mempersatukan seluruh elemen masyarakat Betawi dalam menjaga identitas dan masa depan budaya Betawi.
Kegiatan silaturahmi dan konsolidasi tersebut diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat sinergi antara Dewan Adat Badan Musyawarah Betawi dan Laskar Adat Betawi, khususnya dalam mengawal implementasi Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Budaya Betawi serta memastikan keberlanjutan budaya Betawi di tengah perkembangan Jakarta menuju kota global.
Momentum tersebut sekaligus menegaskan bahwa kebangkitan budaya Betawi tidak hanya bertumpu pada program formal, tetapi juga pada kesadaran moral dan partisipasi aktif masyarakatnya sebagai pemilik kebudayaan.
Dengan semangat persatuan dan kesadaran budaya, masyarakat Betawi diharapkan mampu menjadikan budaya Betawi sebagai kekuatan moral sekaligus identitas yang tetap hidup dan relevan dalam perjalanan Jakarta menuju lima abad keberadaannya. (Bar/Red)










