“Rakyat Desa Tak Pakai Dolar”. Prof. Kun Sebut Visi Ekonomi Prabowo Berakar pada Kekuatan Rakyat

Uncategorized108 views

Kemandirian Desa Jadi Benteng Ekonomi Nasional, Prof. Kun Nurachadijat Bedah Visi Presiden Prabowo Subianto

JAKARTA — Pengamat ekonomi dan akademisi, Prof. Dr. Kun Nurachadijat, menilai pernyataan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengenai “rakyat desa ga pake Dolar” merupakan refleksi dari realitas ekonomi akar rumput Indonesia yang memiliki daya tahan kuat terhadap gejolak global. Menurutnya, pernyataan sederhana tersebut justru mengandung makna strategis tentang ketahanan struktural ekonomi nasional yang bertumpu pada desa dan masyarakat pesisir.

Dalam keterangannya, Prof. Kun menjelaskan bahwa ekonomi desa di Indonesia pada dasarnya bergerak dalam ekosistem yang mandiri. Aktivitas produksi, distribusi, hingga konsumsi masyarakat desa sebagian besar berlangsung di dalam rantai pasok lokal dan menggunakan mata uang Rupiah. Karena itu, fluktuasi nilai tukar Dolar AS tidak secara langsung mengguncang kehidupan ekonomi masyarakat desa sebagaimana yang terjadi di sektor perkotaan yang sangat bergantung pada barang impor, industri berbahan baku luar negeri, maupun pola konsumsi modern.

“Presiden Prabowo Subianto sedang mengingatkan bangsa ini bahwa fondasi ekonomi Indonesia yang sesungguhnya berada di desa. Ketahanan pangan, pasar tradisional, hasil bumi, serta aktivitas ekonomi rakyat menjadi jangkar nasional di tengah badai ekonomi global,” ujar Prof. Kun Nurachadijat.

Lebih lanjut, ia menilai berbagai program strategis pemerintahan Presiden Prabowo bukan sekadar agenda sosial, melainkan desain besar penguatan ekonomi nasional berbasis kerakyatan. Program Makan Bergizi Gratis, misalnya, dipandang sebagai stimulus ekonomi sirkular yang mampu menciptakan pasar tetap bagi petani, peternak, nelayan, dan pelaku UMKM desa. Kebutuhan pangan program tersebut diserap langsung dari produksi lokal sehingga perputaran uang tetap berada di dalam negeri dan tidak terpengaruh volatilitas mata uang asing.

Selain itu, penguatan kelembagaan melalui Koperasi Desa Merah Putih disebut menjadi instrumen penting untuk menjaga agar nilai tambah ekonomi tidak keluar dari daerah. Koperasi didorong menjadi pusat distribusi, konsolidasi hasil panen, sekaligus tulang punggung rantai pasok nasional berbasis desa. Pendekatan serupa juga diperkuat melalui pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui akses infrastruktur, distribusi, dan pasar yang lebih terintegrasi.

Menurut Prof. Kun, kolaborasi antara program pangan nasional, koperasi desa, dan penguatan kawasan pesisir akan melahirkan ekosistem ekonomi yang resilien dan berdaulat. “Ketika uang berputar di desa, produksi pangan berasal dari rakyat sendiri, dan konsumsi dipenuhi dari hasil bumi nasional, maka Indonesia memiliki kekuatan ekonomi yang jauh lebih kokoh dibanding sekadar bergantung pada dinamika pasar global,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa pemerintah tetap harus menjaga stabilitas makroekonomi melalui peran Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan. Namun di saat yang sama, masyarakat perlu membangun optimisme bahwa Indonesia memiliki kekuatan domestik yang besar apabila desa, koperasi, dan sektor pangan terus diperkuat secara serius dan berkelanjutan.
“Jika desa dan kampung nelayan kita kuat, maka Indonesia akan tetap berdiri tegak menghadapi tekanan ekonomi global apa pun. Inilah esensi kemandirian ekonomi nasional yang sedang dibangun Presiden Prabowo Subianto,” tutup Prof. Kun Nurachadijat.(Red)

News Feed