RAKYAT MULAI BERSATU MELAWAN FIR’AUN SOLO.

Opini52 views

 

Oleh: Saiful Huda Ems.

Dahulu Cebong, Kampret dan Kadrun bertarung satu sama lainnya, karena diadu, dibentur-benturkan oleh Jokowi. Sekarang Cebong, Kampret dan Kadrun bersatu Melawan Jokowi, namun masih tersisa segelintir Cebong yang masih mendukung Jokowi. Mereka segelintir orang yang tersisa itulah yang disebut dengan istilah Termul.

Termul ini tidak banyak, sedikit sekali, orang-orangnya minim argumentasi dan seperti robot. Mereka disetting sedemikian rupa dan hanya bisa berkata-kata:”Hai pembenci, hai kau sakit hati, hai kau yang gagal move one, hai kau Anak Abah, dan hai kau tak kebagian jatah”. Itu-itu saja kata-kata yang biasa mereka lontarkan, seirama semuanya dari mulai Jakarta sampai Surakarta.

Kenapa mereka minim argumentasi? Ya karena memang mereka aslinya tak berbeda jauh dengan minimnya kadar keilmuan Jokowi yang dipuja-pujanya. Seandainya Jokowi itu intelek, punya ijazah dari institusi pendidikan atau perguruan tinggi yang jelas, maka para Termulpun akan ikut-ikutan cerdas. Tetapi kenyataannya kan sebaliknya.

Untuk itu dalam menghadapi para Termul, kita harus sabar, ulet dan telaten memberikan pencerahan pada mereka. Kalau mau marah dan jengkel pada para Termul yang bebal, ya silahkan marah dan jengkel saja. Tetapi marah dan jengkelnya jangan lama-lama, juga sekedarnya saja.

Soalnya setau saya, mereka-mereka yang di Pilpres 2024 lalu menyerang saya di Medsos, sekarang sudah banyak yang insyaf dan jadi kritikus-kritikus Jokowi juga pada akhirnya. Makanya yang sabar menghadapi mereka, perbanyak istighfar dan kasih doa-doa yang terbaik buat mereka. Anggap saja itu sedekah ilmu kita pada mereka.

Oh ya, tentu saja ada dari para Termul yang orangnya cerdas dan berpendidikan tinggi, tapi mereka ini masih banyak yang penasaran ingin menjadi pejabat negara, atau ingin menikmati uang yang ditimbun oleh Jokowi selama Jokowi menjadi Walikota, Gubernur dan Presiden dua periode. Meski demikian kebanyakan dari mereka itu bekerja secara sembunyi-sembunyi untuk menjadi budak politik Jokowi.

Organisasi relawan pendukung Jokowi itu dahulu ada ribuan, baik yang terdaftar atau tidak terdaftar di Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin. Tetapi setelah Jokowi tidak lagi menjadi presiden dan banyak terbukti melakukan pembohongan publik dan pelanggaran hukum, organisasi relawan Jokowi yang dahulu ribuan itu tinggal beberapa biji saja, sepertinya tidak lebih dari 10 bahkan mungkin tidak lebih dari 5 biji.

Projo yang dahulu terdepan membela Jokowi saja sekarang sudah tidak sudi, atau setidaknya malu mendukung Jokowi. Makanya mereka sudah berniat untuk mengganti logo kepala Jokowi dengan kepala apa saya tidak tahu.

Pun demikian halnya dengan Ormas HARIMAU JOKOWI yang saya pimpin dan kepengurusannya didominasi oleh para advokat mulai dari Jakarta hingga Surabaya, serta dari Papua, Sulawesi, Kalimantan hingga Aceh, sekarang sudah berganti dengan HARIMAU MENERKAM JOKOWI, yang fokusnya menerkam Fir’aun Solo.

Nyaris sudah tidak ada lagi relawan dan Parpol yang mau mendukung Jokowi kecuali PSI, yang para pengurusnya tidak berpengalaman mengurus partai politik. Itupun Ketua Umumnya anaknya Jokowi sendiri, Kaesang Pangarep, meskipun pengalaman politiknya paling buntut.

Dari kenyataan ini kita semua menjadi semakin tahu, bahwa Jokowi ternyata hanyalah pantas diterima dan didukung oleh partai gurem yang tidak lolos ke Senayan di Pemilu 2024 lalu, meskipun saat itu PSI sudah kampanye dimana-mana dan menyebut partainya sebagai partai Jokowi, serta mengusung ideologi Jokowisme.

Apa itu Jokowisme? “Ya ndak tahu, kok tanya saya”. Mungkin itu yang bisa dijawab oleh kader-kader PSI, karena pada kenyataannya Jokowi tidak pernah mempunyai gagasan apa-apa, dan tidak akan pernah mengerti ideologi-ideologi apa yang ada di dunia ini, soalnya Jokowi tidak pernah membaca buku.

Program-program pemerintahannya dahulupun, banyak yang dibuatkan oleh kader-kader partai yang sekarang justru banyak bersebrangan politik dengannya. Jadi, mengharap Jokowi akan hebat dan mampu memenangkan PSI dan Gibran Rakabuming Raka sebagai Wapres atau Presiden di 2029 nanti, adalah khayalan orang-orang yang sedang kehilangan nalar sehatnya. Sapere aude !…(SHE).

10 Februari 2026.

Saiful Huda Ems (SHE).

News Feed