Rapat Pleno I DPC GPM Kota Yogyakarta Teguhkan Marhaenisme dan Gerakan Advokasi Rakyat

Daerah264 views

 

Yogyakarta, 18 Agustus 2026 — Pengurus Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Marhaenis (DPC GPM) Kota Yogyakarta melaksanakan Rapat Pleno I pada Selasa, 18 Agustus 2026, bertempat di Joglo Resto, Jeron Beteng, Siliran, Kraton, Yogyakarta. Rapat dipimpin langsung oleh Ketua DPC GPM Kota Yogyakarta, Jarot Kurniadi, dan dihadiri oleh 16 orang pengurus.

Rapat pleno perdana pasca terbentuknya kepengurusan baru tersebut menjadi momentum penting untuk membangun kesamaan pemahaman ideologi, menyusun konsolidasi organisasi, sekaligus meneguhkan kembali eksistensi GPM sebagai organisasi kepemudaan yang berjuang bersama rakyat.

Dalam pleno tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai Marhaenisme, Marhaenis, dan Marhaen yang disampaikan oleh Gunawan Hartono (Kawir). Materi tersebut kemudian diperdalam oleh Jubir Formatur DPC GPM Kota Yogyakarta, Antonius Fokki Ardiyanto, yang menyampaikan struktur dan personalia kepengurusan DPC GPM Kota Yogyakarta sebagai bagian dari proses konsolidasi organisasi.

Suasana rapat berlangsung dialogis. Seluruh peserta diberikan ruang untuk melakukan brainstorming dan menyampaikan pandangan masing-masing mengenai makna Marhaenisme, siapa yang disebut Marhaenis, serta bagaimana memahami dan memperjuangkan kepentingan kaum Marhaen dalam konteks persoalan rakyat Kota Yogyakarta saat ini.

Dari diskusi tersebut muncul berbagai gagasan mengenai arah gerakan organisasi ke depan, termasuk pentingnya menjadikan GPM sebagai organisasi yang hadir secara nyata di tengah masyarakat. Gerakan tidak boleh berhenti pada wacana ideologis, tetapi harus diterjemahkan ke dalam kerja-kerja konkret yang menyentuh persoalan rakyat.

Ketua DPC GPM Kota Yogyakarta Jarot Kurniadi menegaskan bahwa konsolidasi organisasi harus dibarengi dengan keberanian untuk bergerak dan bekerja bersama rakyat.

«“GPM harus hadir, bukan sekadar terlihat. Marhaenisme harus hidup dalam tindakan dan keberpihakan kepada rakyat kecil. Karena itu, setelah konsolidasi internal ini, GPM Kota Yogyakarta harus segera bergerak dengan kerja-kerja nyata,” ujar Jarot.»

Sementara itu, Antonius Fokki Ardiyanto menegaskan kembali posisi politik organisasi bahwa GPM merupakan OKP nonpartisan dan tidak berafiliasi dengan partai politik mana pun. GPM berdiri sebagai organisasi kepemudaan yang berjuang untuk kepentingan kaum Marhaen dengan menjadikan Marhaenisme sebagai landasan ideologi perjuangan.

“GPM bukan organisasi sayap partai dan tidak menjadi alat kepentingan partai politik tertentu. GPM adalah OKP nonpartisan yang berdiri sendiri, dengan garis perjuangan yang berpihak kepada kaum Marhaen. Karena itu, orientasi gerakan kita adalah rakyat dan persoalan rakyat,” tegas Antonius.

Dalam pleno tersebut juga disepakati gagasan untuk membangun “Angkringan Marhaen” di kawasan Siliran. Angkringan ini dirancang tidak semata-mata sebagai kegiatan ekonomi, tetapi juga sebagai sarana fund raising organisasi sekaligus ruang perjumpaan, diskusi, kaderisasi, dan komunikasi rakyat.

“Angkringan Marhaen kita gagas sebagai ruang rakyat. Di sana bisa menjadi tempat ngopi, berdiskusi, menyampaikan persoalan, sekaligus menjadi salah satu sumber pembiayaan mandiri organisasi. Jadi ekonomi dan gerakan kita bangun secara bersamaan,” tambah Antonius.

Selain itu, berbagai usulan dan gagasan yang muncul dalam rapat akan ditindaklanjuti dalam program kerja DPC GPM Kota Yogyakarta. Salah satu prioritas yang mendapat perhatian adalah penguatan gerakan advokasi rakyat, sebagai bentuk nyata keberpihakan GPM terhadap persoalan masyarakat.

Pengurus menyadari bahwa kebangkitan kembali GPM di Kota Yogyakarta tidak cukup hanya dengan terbentuknya struktur organisasi. Eksistensi GPM harus dibuktikan melalui kerja-kerja nyata, konsisten, dan terukur di tengah rakyat.

Rapat Pleno I DPC GPM Kota Yogyakarta tersebut akhirnya menjadi titik awal konsolidasi untuk menghadirkan “GPM Reborn” di Kota Yogyakarta: GPM yang kembali hadir, berideologi Marhaenisme, independen dari kepentingan politik partisan, serta aktif membela dan memperjuangkan kepentingan kaum Marhaen.

“Mengumpulkan yang berserak dengan Marhaenisme, kemudian bergerak bersama rakyat.”

DPC Gerakan Pemuda Marhaenis Kota Yogyakarta

News Feed