Sabang Night Market Ditolak, Warga Desak Pemkot Jakpus Bereskan PKL, Sampah dan Parkir Semrawut

Daerah373 views

Jakarta — Rencana penataan Jalan H. Agus Salim atau Jalan Sabang, Jakarta Pusat, mendapat penolakan dari mayoritas warga dan pelaku usaha. Mereka keberatan dengan rencana Sabang Night Market yang dinilai berpotensi mengganggu akses usaha, lalu lintas, dan mobilitas kawasan.

Penolakan itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) penataan kawasan Jalan Sabang yang digelar Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat di kantor Pemkot Jakpus pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Perwakilan Pemerintah Kota Jakarta Pusat, Deny Ramdani, mengatakan penataan Jalan Sabang masih berada pada tahap konsep awal. Pemerintah, kata dia, ingin mendengar langsung masukan warga dan pelaku usaha sebelum menentukan kebijakan.

“Kalau tidak disetujui atau didukung, pemerintah tidak akan memaksakan,” kata Deny.

Deny mengatakan penataan kawasan diarahkan untuk meningkatkan kelas Jalan Sabang sebagai bagian dari kawasan kota global. Pemerintah juga ingin tetap mempertahankan kearifan lokal dalam proses penataan.

Namun, warga dan pelaku usaha justru meminta pemerintah menyelesaikan persoalan lama sebelum membuat kegiatan baru. Mereka menyoroti penggunaan trotoar oleh pedagang kaki lima sebagai dapur, parkir yang semrawut, kondisi pedestrian yang tidak nyaman, persoalan sampah, serta keberadaan tunawisma, pengemis dan pengamen.

Mario selaku perwakilan pengusaha dari Toko Roti Sakura mempertanyakan rencana Sabang Night Market. Ia menolak kegiatan tersebut dan mengusulkan agar agenda serupa digelar di lokasi lain.

“Sabang Night Market jangan di Jalan Sabang. Kalau mau dibuat, bisa dipindahkan ke Jalan Wahid Hasyim atau Jalan Jaksa,” ujar Mario.

Keluhan mengenai kondisi trotoar juga disampaikan Hindar, warga yang tinggal di sekitar kawasan HokBen. Menurut dia, persoalan utama Jalan Sabang bukan kurangnya kegiatan malam, melainkan penataan ruang publik yang belum beres.

“Trotoar dihabiskan untuk dapur K5. Masalah utamanya K5, pengemis, pengamen, dan bau sampah,” ucap Hindar.

Natasya dari Natrabu Resto juga menyatakan keberatan terhadap rencana Sabang Night Market. Menurut dia, kegiatan tersebut berpotensi mengganggu mobilitas masyarakat dan pelaku usaha.

Ia mengusulkan agar penataan Jalan Sabang meniru pendekatan kawasan Kota Lama Semarang. “Kami siap mendukung upaya pemerintah kalau penataannya tepat,” ujar Natasya.

Penolakan juga datang dari Adi, pengelola Hotel Sabang. Ia mengatakan penutupan Jalan Sabang untuk kegiatan tertentu dapat mengganggu akses tamu hotel, terutama pada akhir pekan.

“Penutupan jalan akan mengganggu akses tamu hotel dan memperparah persoalan lahan parkir,” beber Adi.

Warga juga meminta pemerintah memperbaiki sistem parkir. Grace, perwakilan RW setempat, mengatakan persoalan parkir tidak hanya berasal dari warga sekitar, tetapi juga kendaraan dari luar kawasan dan pekerja kantor di sekitar Jalan Sabang.

Menurut dia, pengurus RW selama ini belum banyak dilibatkan dalam pengelolaan parkir kawasan.

Selain menolak Sabang Night Market, peserta FGD mengusulkan pembentukan satuan tugas khusus yang melibatkan Polri, Satpol PP dan Dinas Sosial. Satgas tersebut diharapkan menangani persoalan keamanan, PKL, tunawisma, pengemis, pengamen dan ketertiban kawasan.

Mereka juga mengusulkan penyediaan kantong parkir kendaraan roda dua, pemasangan CCTV, peningkatan penerangan serta pengelolaan sampah dan limbah yang lebih ketat.

Anggota DPRD DKJ, Wa Ode Herlina, mengatakan penataan Jalan Sabang tetap penting agar kawasan tersebut dapat berkembang menjadi kawasan berkelas internasional. Namun, pemerintah diminta tidak terburu-buru menerapkan konsep tanpa menguji dampaknya.

Wa Ode menyarankan pemerintah menggunakan jasa konsultan untuk menyusun konsep penataan dan melakukan uji coba sebelum kebijakan diterapkan secara permanen. Digitalisasi pengelolaan kawasan juga dinilai dapat menjadi salah satu solusi.

“Penataan harus tetap bisa meningkatkan kualitas kawasan tanpa mengganggu aktivitas pengusaha dan masyarakat,” tutur Wa Ode.

Sementara itu, Pemerintah Kota Jakarta Pusat menyatakan hasil FGD akan dilaporkan kepada Wali Kota Jakarta Pusat. Asisten Sekretaris Kota Bidang Pembangunan, Suprayogi, mengatakan rencana penataan Jalan Sabang sebenarnya telah beberapa kali dibahas, tetapi belum terealisasi.

Dalam forum tersebut, pemerintah menegaskan rencana penataan masih berupa konsep. Artinya, keputusan mengenai pelaksanaan Sabang Night Market belum final.

News Feed