Sekolah Resmi Tolak MBG, GPM Sleman: Keselamatan Anak Jangan Jadi Taruhan

Daerah174 views

 

SLEMAN, Yogyakarta — Keputusan SDN 1 Sumberagung untuk sementara menghentikan penerimaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat perhatian dari Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Kabupaten Sleman.

Ketua DPC GPM Sleman, Setiyo Budiyono, SE, atau yang akrab disapa Budi Black, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah tegas pihak sekolah bersama wali murid dan komite sekolah.

Sikap tersebut diambil setelah sebelumnya terjadi dugaan keracunan massal yang menimpa sekitar 50 siswa dan 3 guru setelah menyantap menu MBG pada Jumat (4/9).

Kepala SDN 1 Sumberagung, Parjiyatmi, menyatakan pihak sekolah telah membuat surat pernyataan penolakan sementara terhadap MBG yang telah ditandatangani wali murid dan komite sekolah.

«“Saya sudah buat surat pernyataan menolak MBG dan sudah ditandatangani wali murid serta komite. Jadi kami tidak menerima dulu MBG karena masih trauma juga kan,” tegas Parjiyatmi.»

Kasus tersebut bermula ketika pihak sekolah menemukan kejanggalan pada salah satu menu makanan. Guru disebut sempat mencurigai tekstur galantin yang dinilai tidak normal pada ompreng makanan yang diterima siswa.

Setelah mengonsumsi makanan tersebut, sejumlah siswa dan guru kemudian mengalami berbagai keluhan, mulai dari mual, pusing, muntah hingga diare.

GPM: Sikap Sekolah Harus Dihargai, Bukan Dipersoalkan

Menanggapi keputusan tersebut, Budi Black menilai langkah sekolah merupakan bentuk tanggung jawab terhadap keselamatan peserta didik.

«“Kami memberikan apresiasi yang tinggi kepada pihak sekolah, wali murid dan komite yang berani mengambil sikap. Ketika menyangkut keselamatan dan kesehatan anak-anak, kehati-hatian adalah sebuah keharusan, bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan,” ujar Budi Black.»

Menurutnya, penghentian sementara MBG di sekolah tersebut harus menjadi alarm keras bagi pengelola program dan pemerintah untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh.

«“Jangan sampai sekolah yang berusaha melindungi anak-anak justru dianggap menghambat program pemerintah. Sekolah memiliki tanggung jawab moral dan institusional untuk memastikan peserta didiknya berada dalam kondisi aman,” tegasnya.»

Evaluasi Jangan Sekadar Formalitas

GPM Sleman meminta evaluasi program MBG dilakukan secara serius, profesional dan transparan.

Evaluasi, kata Budi Black, tidak boleh berhenti pada pemeriksaan setelah kejadian, tetapi harus menyentuh seluruh mata rantai pelaksanaan program.

Mulai dari pemilihan bahan pangan, kualitas bahan makanan, proses pengolahan, standar kebersihan dan sanitasi dapur, penyimpanan, pengemasan, distribusi, hingga pengawasan makanan sebelum dikonsumsi siswa harus diperiksa secara menyeluruh.

«“Kalau ada dugaan makanan yang menyebabkan anak-anak sakit, jangan hanya dicari siapa yang salah. Yang lebih penting adalah mencari akar masalahnya. Sistemnya harus diperiksa dari hulu sampai hilir,” kata Budi Black.»

Ia menegaskan bahwa GPM Sleman pada prinsipnya tidak menolak tujuan program MBG.

«“Kami tidak anti-MBG. Tujuannya baik. Tetapi program yang baik harus dilaksanakan dengan standar yang baik pula. Jangan sampai niat memberikan makanan bergizi justru membuat anak-anak dan orang tua merasa takut,” ujarnya.»

Jangan Kejar Target, Abaikan Kualitas

Budi Black juga mengingatkan agar pelaksanaan MBG tidak hanya berorientasi pada pencapaian target distribusi, tetapi mengabaikan aspek kualitas dan keamanan pangan.

«“Jangan hanya berpikir berapa banyak makanan yang harus didistribusikan setiap hari. Pertanyaan paling penting adalah: apakah makanan itu aman dikonsumsi anak-anak?”»

Menurutnya, apabila masih terdapat trauma dan kekhawatiran dari siswa, wali murid maupun pihak sekolah, pemerintah dan pengelola MBG harus memberikan jaminan keamanan pangan yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar pernyataan.

«“Kepercayaan masyarakat tidak bisa dibangun dengan slogan. Kepercayaan dibangun melalui kualitas, transparansi, pengawasan dan bukti bahwa sistemnya memang aman,” tegasnya.»

GPM Sleman berharap pemerintah menjadikan kasus ini sebagai momentum untuk melakukan evaluasi total dan pembenahan sistem, sehingga program MBG benar-benar mencapai tujuan utamanya: memenuhi kebutuhan gizi anak sekaligus memberikan rasa aman kepada siswa, guru dan orang tua.

«“Anak-anak bukan objek percobaan. Mereka adalah generasi yang harus kita lindungi. Kalau memang ada yang belum beres, hentikan sementara, evaluasi secara serius, perbaiki sistemnya, dan setelah benar-benar memenuhi standar keamanan, baru dilanjutkan. Keselamatan anak harus berada di atas target program,” pungkas Budi Black.»

News Feed