Sosok Angku Saliah, reflektif, kultural, dan bernapas moral—sebagaimana hidup yang ia jalani:

Budaya15 views

 

Di tengah hiruk-pikuk sejarah Minangkabau—yang penuh debat, gelombang pembaruan, dan perebutan pengaruh—hadirlah seorang ulama yang berjalan perlahan, nyaris tanpa suara, namun jejaknya menetap lama. Ia adalah Angku Saliah—atau

Ungku Saliah—ulama besar asal Padang Pariaman, yang hidup dari akhir abad ke-19 hingga dekade 1970-an.

Angku Saliah bukan tokoh yang gemar tampil. Ia tidak membangun reputasi dengan mimbar tinggi atau retorika yang membakar. Ia justru dikenal karena kesederhanaannya yang nyaris asketik: pakaian yang itu-itu saja, rumah yang tak mencolok, dan hidup yang jauh dari simbol kemewahan.

Namun justru dari hidup yang bersahaja itu, lahir wibawa yang tak bisa dibuat-buat.
Sebagai guru agama dan mursyid tarekat, murid-muridnya datang dari berbagai penjuru—kampung-kampung di Minangkabau hingga perantauan jauh. Mereka datang bukan karena undangan resmi atau pamflet dakwah, melainkan karena kabar dari mulut ke mulut: bahwa ada seorang ulama yang ilmunya menenangkan, akhlaknya menguatkan, dan nasihatnya membekas lama. Angku Saliah mengajarkan Islam dengan cara yang sunyi tapi dalam—tanpa marah-marah, tanpa menghakimi, tanpa merasa paling benar. Ilmunya tidak riuh, tapi terasa.
Ia dikenal tegas dalam prinsip moral, namun lembut dalam memperlakukan manusia. Kesalahan ditegur, bukan dihukum; penyimpangan diarahkan, bukan dipermalukan. Dalam diri

Angku Saliah, agama tidak hadir sebagai alat untuk menguasai, melainkan sebagai jalan untuk membersihkan hati. Tak heran jika masyarakat juga menuturkan berbagai kisah tentang karamah beliau—bukan dalam arti sensasi, tetapi sebagai ungkapan kepercayaan terhadap kebijaksanaan dan kejernihan batinnya.

Keunikan lain dari Angku Saliah adalah cara ia “hadir” dalam kehidupan orang Minang hingga hari ini. Fotonya hampir selalu terpajang di rumah makan Padang, berdampingan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan kaligrafi. Itu bukan kebetulan, dan bukan pula sekadar tradisi visual. Bagi orang Minang—terutama di rantau—Angku Saliah adalah simbol keberkahan usaha, penjaga identitas spiritual, dan pengingat nilai.

Foto itu seolah berkata tanpa kata:
Kami berdagang, tapi kami tidak menjual iman.
Kami mencari rezeki, tapi kami tidak lupa arah pulang.

Dalam dunia yang gemar mengukur keberhasilan lewat popularitas dan pengaruh, Angku Saliah justru berdiri sebagai antitesisnya. Ia bukan selebritas, bukan politikus, bukan motivator panggung. Ia terkenal justru karena tidak ingin terkenal. Ia berpengaruh karena tidak mengejar pengaruh.

Dan mungkin di situlah letak keabadiannya:
nama yang hidup karena akhlak,
jejak yang panjang karena ketulusan,
dan warisan yang bertahan karena ia tak pernah merasa perlu meninggalkan apa-apa selain teladan.

Angku Saliah telah lama wafat, tetapi nilainya masih bekerja—diam-diam—di dapur rumah makan, di hati perantau, dan dalam ingatan kolektif orang Minangkabau.

#Fyt
#Sorot
#Semuaorang

News Feed