Staf Khusus Menteri Agama RI Tegaskan Komitmen Membenahi Pendidikan Keagamaan dan Memperkuat Perlindungan Santri

Nasional437 views

Kesbangnews.com – LOMBOK TENGAH, NTB   Staf Khusus Menteri Agama RI, Dr. H. Gugun Gumilar, M.A., Ph.D., mendatangi Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, untuk menemui ibu Sahri Sobirin, santri yang kisahnya menjadi perhatian publik.

 

Kedatangan Gugun merupakan bentuk komitmen memenuhi aspirasi masyarakat sekaligus melihat langsung kondisi keluarga yang tengah berduka.

 

“Sore ini, saya datang memeluk sang Ibu. Ahhh… gak kuat saya bro… tangisan dan luka dalam menggores hati saya,” tulis Gugun dalam unggahan Instagramnya.

 

Pertemuan berlangsung haru. Sang ibu bahkan mengajak Gugun makan di makam anaknya yang berada di tengah sawah. Gugun mengaku sulit berkata banyak dan hanya dapat memanjatkan doa agar sang ibu diberi kesehatan, kekuatan, dan ketabahan.

 

 

“Yang tersisa hanya doa,” tulisnya.

Tegaskan Pembenahan Pendidikan Keagamaan

 

Di tengah suasana duka, Gugun menyampaikan komitmen untuk terus mendorong perbaikan Kementerian Agama dan lembaga pendidikan keagamaan.

 

“Saya berjanji akan terus perbaiki Kementerian Agama dan Lembaga Pendidikan Keagamaan,” tegasnya.

 

Menurut Gugun, persoalan kekerasan dan perundungan terhadap anak tidak boleh berhenti sebagai keprihatinan. Setiap kejadian harus menjadi momentum evaluasi untuk memperkuat pengawasan dan sistem perlindungan peserta didik.

 

“Hampir tiap hari anak-anak yang menjadi korban kekerasan, perundungan, bahkan kehilangan nyawa. Semoga tidak ada lagi keluarga yang harus berdiri di depan pusara anaknya,” tulis Gugun.

 

“Om Gugun Urus, Ya Nak”

 

Pesan Gugun kepada Sahri menjadi bagian paling emosional dari unggahannya.

 

“Adek… surga untukmu ya nak… Ibu mu… Om Gugun urus yah nak…”

 

Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga atas nama pemerintah.

 

“Mohon maaf lahir dan batihin. Atas nama Pemerintah,” tulisnya.

 

Bagi Gugun, persoalan tersebut menjadi pengingat bahwa lembaga pendidikan keagamaan harus menjadi ruang yang aman, bermartabat, dan mampu melindungi setiap anak.

 

Kunjungan itu pun tidak berhenti pada empati. Gugun menegaskan perlunya pembenahan nyata melalui penguatan pengawasan, pencegahan kekerasan, mekanisme pengaduan, serta perlindungan terhadap santri dan peserta didik.

 

“Tidak mudah… sekali lagi… tidaklah mudah,” tulis Gugun.

 

Dari Lombok Tengah, pesan itu menjadi tegas: duka harus melahirkan evaluasi, empati harus diwujudkan dalam tindakan, dan keselamatan anak harus menjadi prioritas.

News Feed