SUMBAR MAJU TANPA NARKOBA DAN LGBT

Daerah287 views

 

Setelah lama bertemu Menko Polkam Jenderal Djamari Chaniago otak saya terus berpikir, bagaimana membangun strategi baru : mempercepat pertumbuhan Sumbar dan melepaskan jeratan narkoba dan LGBT.

Dua permasalahan ini tidak bisa dianggap enteng. Sebab secara tidak langsung mencabut posisi Sumbar sebagai daerah yang beradat dan beragama dalam landasan filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABSSBK).

Kedua problem itu akan menjadi alat pembenar bahwa adat dan agama hanya menjadi simbolik bukan terapan kehidupan, meski fakta masa lalu membuktikan bahwa filosofi kehidupan orang Minang sangat dilandasi oleh adat dan agama. Makanya banyak tokoh hebat lahir dari rahim Ranah Minang.

Saya tidak mau berdebat bahwa berkembangnya narkoba dan LGBT di Sumbar adalah bertujuan untuk menghancurkan adat dan agama Islam di Sumbar oleh kepentingan tertentu.

Saya hanya ingin berpikir bagaimana membangun cara baru, dimana adat dan agama terus dikencangkan, para pendukung narkoba dan LGBT berangsur hilang.

Ini memang bukan pekerjaan gampang. Sangat membutuhkan energi besar, belum lagi akan ada cimeeh Piaman : manga lo urusan urang diurus, urus selah diri surang!

Tetapi secara jujur, inilah beda profesi lain dengan jurnalis. Jurnalis memang disetting menjadi alat transformasi dari situasi buruk ke situasi lebih baik melalui pemberitaan yang diterbitkannya.

Makanya tidak aneh, ada analogi tentang jurnalis sebagai matahari yang terbit dari barat. Sebagai filosofi berpikir terbalik tetapi sangat dibutuhkan dunia. Jika jurnalis diam, maka kiamat akan tiba.

Begitulah, mengapa. Seorang Jurnalis ditakdirkan untuk memikirkan di luar dirinya sendiri, yang kadang secara tidak disadari apa yang dilakukan seorang Jurnalis malah menjadi matahari bagi orang lain.

Saya memilih jalur profesi ini secara sadar dan sangat menyadari situasi dan kondisi profesi ini. Sebab itu pula, saya sangat sulit lepas dari profesi ini.

Makanya, bertemu dengan orang sekelas Jenderal Djamari Chaniago dengan daya pikir juga seperti meteor, maka yang tersia di otak saya adalah menulis sebuah sistim membangun cepat Sumbar dan meninggalkan nafsi nafsi narkoba dan LGBT.

Apakah otak saya sama dengan para penguasa di Sumbar saat ini?

Tidak tau saya!

News Feed