Tan Malaka: Sang Bapak Republik yang Menjadi “Hantu” di Rumah Sendiri

Tokoh45 views

 

Di sebuah sudut sunyi di Kediri, tahun 1949, sebuah peluru menembus tubuh seorang pria yang seluruh hidupnya dihabiskan untuk satu kata: Merdeka. Ironisnya, peluru itu bukan datang dari moncong bedil Belanda, melainkan dari tangan bangsanya sendiri.

Pria itu adalah Ibrahim, yang dunia kenal sebagai Tan Malaka. Seorang jenius pengembara yang oleh Bung Karno sendiri diakui sebagai “Bapak Republik”. Namun, mengapa nama sang perintis justru berakhir di lubang tak bernama selama puluhan tahun?

Otak Kelas Dunia, Nasib Kelas Tragedi

Tan Malaka bukanlah politisi kemarin sore. Ia adalah intelektual kelas dunia yang fasih bicara di podium Komintern Rusia, berdebat dengan pemikir besar di Eropa, hingga dijuluki sebagai “Lenin dari Timur”.

Ketika tokoh lain masih berdiskusi tentang otonomi di bawah payung Belanda, Tan Malaka sudah menulis Naar de Republiek Indonesia pada 1925. Ia sudah merancang konsep “Republik” saat Indonesia masih berupa angan-angan yang samar.

Sang Puritan yang Tak Bisa Dibeli

Kenapa ia disingkirkan? Jawabannya sederhana namun pahit: Tan Malaka terlalu lurus.

Dalam dunia politik yang penuh abu-abu, Tan adalah garis hitam-putih yang tegas. Ia tidak bisa berkompromi dengan politik setengah hati atau diplomasi yang bertekuk lutut. Ia adalah kritikus paling pedas, bahkan bagi PKI yang ia anggap kurang revolusioner dan bagi pemerintah yang ia anggap terlalu lembek terhadap penjajah.

Karena kejujurannya yang radikal, ia menjadi sosok yang membahayakan bagi mereka yang haus kekuasaan. Ia pun perlahan dihapus dari memori kolektif:

• Di buku sekolah: Namanya jarang muncul, atau hanya terselip di catatan kaki.

• Di baliho pahlawan: Wajahnya tak dipajang, seolah bangsa ini menderita amnesia sejarah.

Warisan yang Melampaui Zaman

Tan Malaka mewariskan Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika)—sebuah mahakarya yang bertujuan mencuci otak bangsa ini dari “klenik” dan mistisisme menuju cara berpikir logis.

Namun, mari kita bercermin hari ini. Setelah puluhan tahun merdeka, apakah cita-cita Tan sudah terwujud? Di saat kita masih sering melihat data kalah oleh suara dukun, dan perdebatan ide kalah oleh perebutan kursi kekuasaan, kita sadar bahwa kita masih berutang besar pada pemikirannya.

“Suara saya akan lebih keras dari kubur daripada dari atas bumi.” — Tan Malaka

Tan Malaka mungkin telah tewas ditembak, tapi pikirannya menolak mati. Ia tetap menjadi “hantu” yang terus mengetuk pintu kesadaran kita, mengingatkan bahwa sebuah Republik tidak dibangun dengan kompromi murahan, melainkan dengan prinsip yang teguh…

News Feed