Teori Dan Fungsi Teori Dalam Penelitian Politik

Umum64 views

 

Oleh: Syafrudin Budiman, SIP (Mahasiswa Pasca Sarjana Magister Ilmu Politik Univeritas Nasional Jakarta)

Pembahasan

Pada Bab V Membahas Teori dan Model. Amal, Ichlasul dan Budi Winarno, Metodologi Ilmu Politik, Suatu hal yang menarik bagi ilmuwan politik yakni pembuat model dan pembentukan teori.

Sangat penting dalam membedakan metodologik antara teori dan model karena selama teori dan model dipakai oleh ilmuwan politik, maka teori dan model memiliki tujuan berbeda dan kegagalan.

Dimana untuk menyadari perbedaan dapat menimbulkan kebingungan bahkan kekecewaan. Perbedaan antara teori dan model bukanlah hal mutlak.

Berikut perbedaanya.

Pertama, teori politik dipertimbangkan telah sama dengan kegiatan yang terhormat, disebut dengan filsafat politik.

Kedua, perbedaan yang menyesatkan, seringkali dibuat ataran teori dan praktek. Ada ungkapan “ bagus dalam teori, tapi prakteknya tidak akan jalan”. Hal ini dimaksud bahwa teori atau pemikiran teoritik tidak benar atau realistik.

Arnold Brecht menjelaskan hubungan antara praktek dan teori ditunjukkan dengan baik dalam perkataan yang populer bahwa kita belajar dari mencoba-coba (trial and error). Trial merupakan praktek, kesalah (error) menunjukkan teori.

Jika teori menemukan kegagalan dalam praktek maka kesalahan perlu diperbaiki. Teori membantu dalam menjelaskan dan meramalkan fenomena politik, oleh karena itu menetapkan keputusan-keputusan praktis sebuah keniscayaan.

Teori tidak harus salah, karena penafsiran sebenanyra teori merupakan sebuah hipotesa terperinci, kumpulan dugaan yang harus diuji. Sehingga teoritik harus hipotetik yang benar.

Quentin Gibson menjelaskan teori sebagai seperangkat atau sistem-sistem pernyataan yang saling berhubungan secara logik dalam berbagai cara yang kompleks.

Nelson Polsby menjelaskan, sebuah teori ilmiah merupakan kerangkan kerja generalisasi generalisasi secara deduktif yang berasal dari penjelasan atau prediksi terhadap tipe-tipe tertentu dari peristiwa-peristiwa yang diketahui.

Teori politik sebagai kumpulan generalisasi-generalisasi empirik tentang sebuah bidang tertentu merupakan bidang yang populer oleh banyak ilmuwan politik. Ide teori politik merupakan sebuah versi yang sederhana tentang penafisran teori yang diterima secara umum.

Teori ilmiah memiliki dua ciri, yaitu ciri struktural dan ciri substansif. Ciri struktural menujukkan hubungan antara konsep-konsep. Sedangan ciri substansif menunjukkan pada empiriknya.

Carl Campble menjelaskan teori ilmiah terdiri atas sebuah sistem yang dikembangkan secara deduktif yang tidak dapat ditafsirkan dan sebuah penafsiran empirik pada istilah dan kalimat pernafsiran.

Suatu cara mengevaluasi teori dengan menentukan bagaimana teori dapat berfungsi dengan baik dan apa yang diharapkan dari teori itu. Intinya teori adalah penjelasan dari fakta- fakta tunggal dan kejadian-kejadian generalisasi empirik.

Teori dapat menjelaskan generalisasi-generalisasi empirik karena teori lebih bersifat umum, inklusif daripada generalisa empirik. Teori tidak dinyatakan benar atau tidak benar, melainkan menjelaskan hukum-hukum empirik.

Ilmuwan menggunakan teori-teori untuk mengorganisasikan, mensistematikan, dan mengkoordinasikan pengetahuan yang ada dalam bidang atau lapangan tertentu.

Teori-toeri menjelaskan dan mengorganisasikan pengetahuan yang ada. Teori-teori menyarankan pengetahuan dengan membentuk hiptesa-hipotesa.

Tanpa memiliki teori ilmiah yang masuk akal, ilmuwan politik akan efektif dalam pembentukan teori.

Isomorphisme merupakan istilah sederhana yang menunjukkan kepada kesama antara sesuatu dan sesuatu lain (model). Isomorphisme membutuhkan adanya persesuaian antara unsur-unsur dari model dan hubungan antar model.

Jika unsur-unsur dari sebuah teori sesuai dengan unsur-unusr dari teori yang lain dan hubungan-hubungan yang diperlukan tetap ada, maka dinamakan sebuah model dari jenis lain.

May Brodbeck menjelaskan suatu teori yang belum diuji atau tidak dapat diuji dapat diberi model. Model dapat menunjukkan teori-teori yang diringkaskan.

Teori-teori ideal dinamakan model. Bila angka-angka dapat dilekatkan pada konsep dari teori. Maka teori itu menjadi model.

Model tidak sama dengan teori karena model tidak menjelaskan perwakilan aritmetik atau teori yang diidealkan dalam pengertian umum yang digambarkan.

Teori merupakan isomorpik, karena ilmuwan politik mencoba menghubungkan hukum-hukum tentang perilaku pemberian suara.

L.S. Shapley dan Martin Shubik membuat teori kekuasaan model partai politik. Anthony Dawns, dalam modelnya bukan merupakan usaha untuk menggambarkan realitas secara akurat.

Dawns mengatakan model mengusulkan hipotesa tunggal untuk menjelaskan pembuatan keputusan pemerintah dan perilaku partai politik secara umum.

Teori-teori yang masuk akal secara empirik menunjukkan pengalaman, sehingga teori itu dapat menjelaskan pengalaman.

Sebuah model matematik merupakan isomopik yang benar dengan fenomena politik, maka model ini memiliki keterangan empirik dan dapat menjelaskan. Jika model adalah penafsiran realitas sederhana.

Model didasari pada teori formal seperti game theory, peneliti memiliki hubungan yang dapat diuji. Model politik didasarkan pada sebuah struktur atau teori dalam bidang lain.

Model merupakan isopropik yang muncul. Model dalam ilmu politik bersifat menganjurkan, karena model merupakan perwakilan.

Donald Scon mengatakan teori-teori masuk dalam satu dari dua kategori; teori membaut proses secara misterius dan dapat menjelaskan secara instrinsik atau teori memandang sesuatu yang baru secara ilusif dan memerlukan penjelasan.

Kenneth Soniliding telah menyelidik beberapa model konflik sosial. Ia menamakan dua dari model-modelnya sebagai ekologik dan epidemielogik.

William C. Mitchell mengatakan memperkenalkan skema konseptual “struktural-fungsional” adalah sebuah skema atau kerangka kerja konseptual yang penting dalam penyelidikan ilmiah, karena semua kerangkan kerja konseptual memberikan konsep dasar, asumsi, dan penafsiran fakta-fakta.

Daftar Pustaka:

Amal, Ichlasul dan Budi Winarno, Metodologi Ilmu Politik, PAU Studi Sosial, Universitas
Gajah Mada.

Mas’oed, Mohtar, Ilmu Hubugan Internasional Disiplin dan Metodologi, LP3ES, Jakarta,
1990.

News Feed