Menentukan waktu salat, arah kiblat, hingga menetapkan awal Ramadan dan Lebaran bukanlah perkara sederhana. Di balik akurasi perhitungan yang kita gunakan hari ini, ada jejak intelektual luar biasa dari seorang putra Minangkabau bernama Saadoe’ddin Djambek.
Lahir di Bukittinggi pada 24 Maret 1911, sosok bergelar Datuak Sampono Radjo ini bukan hanya seorang ulama, melainkan ilmuwan falak (astronomi) yang berhasil membawa ilmu hisab Indonesia ke level yang lebih akurat dan modern.
Pewaris Darah Ulama, Penekun Ilmu Pasti
Saadoe’ddin adalah putra dari ulama besar Minangkabau, Syekh Muhammad Djamil Djambek. Meski tumbuh dalam lingkungan religius yang kental, ia tidak membatasi diri pada ilmu agama konvensional. Ia adalah seorang pembelajar lintas disiplin yang fasih berbahasa Jerman dan Prancis, serta memiliki dasar ilmu pasti yang sangat kuat.
Pendidikannya membentang dari sekolah guru zaman Belanda hingga mendalami ilmu astronomi di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1954. Kombinasi pendidikan Barat yang rasional dan pendidikan agama yang spiritual inilah yang menjadikannya sosok unik dalam sejarah pemikiran Islam di Indonesia.
Revolusi “Segitiga Bola” (Spherical Trigonometry)
Kontribusi terbesar Saadoe’ddin bagi umat Muslim Indonesia adalah keberaniannya memperkenalkan teori Spherical Trigonometry atau Segitiga Bola ke dalam sistem hisab.
Sebelumnya, metode perhitungan tradisional sering dianggap kurang presisi dalam mengikuti pergerakan benda langit. Saadoe’ddin menjawab tantangan zaman dengan mendialogkan ilmu falak klasik dan astronomi modern. Hasilnya, perhitungan waktu ibadah menjadi jauh lebih akurat. Berkat keahliannya, ia dipercaya menjadi Ketua Badan Hisab dan Rukyat pertama pada tahun 1973, yang beranggotakan para ahli dari seluruh Indonesia.
Pengabdian Tanpa Batas: Dari Guru hingga Lektor Kepala
Karier Saadoe’ddin adalah potret dedikasi seorang guru bangsa. Ia mengawali pengabdiannya sebagai guru sekolah dasar di Palembang, merantau ke Bandung dan Jakarta, hingga menjadi Lektor Kepala di PTPG Batusangkar (sekarang merupakan bagian dari universitas negeri di Sumbar).
Ia juga aktif di Muhammadiyah, menjabat sebagai Ketua Majelis Pendidikan dan Pengajaran pada 1969-1973. Murid-muridnya, seperti H. Abdur Rachim dan H. Wahyu Widiana, kemudian melanjutkan estafet keilmuan falak di Indonesia, memastikan warisan pemikirannya tetap hidup.
Akhir Hayat Sang Penjaga Waktu
Saadoe’ddin Djambek wafat di Jakarta pada 22 November 1977 dalam usia 66 tahun. Ia meninggalkan warisan berupa buku-buku rujukan ilmu falak yang hingga kini masih menjadi pegangan lembaga-lembaga Islam dalam menentukan kalender hijriah.
Bagi Saadoe’ddin, astronomi adalah cara manusia mengagumi keteraturan ciptaan Tuhan melalui angka dan matematika. Ia telah membuktikan bahwa iman dan sains tidak untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipadukan demi kemaslahatan umat.
Sumber: Wikipedia Saadoe’ddin Djambek dan disusun dengan gaya narasi profil tokoh, menonjolkan peran vital beliau sebagai jembatan antara sains modern dan agama.
#SaadoeddinDjambek #IlmuFalk #AstronomiIslam #TokohMinang #HisabRukyat #SejarahIslamIndonesia #Muhammadiyah #Bukittinggi #IlmuPasti










