Undangan Resepsi PernikahanMardawaning – Muhammad Nizar Yang Salah Ditafsirkan*

Umum140 views
  • Jacob Ereste :

Happy Wedding begitu yang tertulis di sejumlah karangan bunga pernikahan Ananda tercantik Joyo Yudhantoro, aktivis demokrasi yang lebih kental mengamalkan “tarekat sosialis”, setidaknya saat mempersiapkan hari yang terbilang penting dalam sejarah hidup Mardawaning yang dipersunting Muhammad Nizar, sang ayah – yang acap disapa oleh kalangan sahabat dan kerabat GMRI dengan sebutan Pakde Toro (Joyo Yudhantoro) justru memilih untuk mengutus saudara angkatnya yang meninggal dunia berikut beban hidup yang ditinggalkan oleh yang bersangkutan.

Begitulah kisah salah persepsi tentang undangan hajat pernikahan sang putri yang paling dia sayangi itu, namun tetap dia tinggalkan untuk mengutus berbagai keperluan hajat pernikahan, tapi Pakde Toro malah memilih sibuk mengurus saudara angkatnya yang meninggal dengan mewariskan berbagai biaya hidup yang belum almarhum lunasi.

Pilihan sikap yang aneh ini memang sudah dimahfum oleh segenap kerabat dan sahabat GMRI semacam perserikatan sejumlah aktivis dan tokoh yang menaruh kepedulian untuk membangun gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual untuk dijadikan semacam program unggulan bagi Indonesia agar dapat menjadi pelopor serta pusat pengembangan spiritual di dunia untuk menjadi pegangan hidup di dunia yang perlu memiliki peradaban yang beradab dan manusiawi.

Pakde Toro – begitulah tutur sapa dalam sistem kekerabatan maupun persahabatan dalam lingkaran keakraban GMRI sedang punya hajat mantu, pada Hari Minggu, 5 April 2026 dengan menggelar acara akad nikah Mardawaning yang dipersunting Muhammad Nizar, seorang dosen dari Universitas terkemuka di Sumatra, dengan acara berantai resepsi di dua tempat sekaligus.

Sehingga baru kali inilah acara mentenan mendapat acara plus kritik, lantaran ada diantara sahabat dan kerabat yang ingin menghadiri sermua rangkaian acara yang dilaksanakan secara beruntun itu. Tapi informasi dari Pakde Toro justru memberi pilihan seperti di sekolah dulu, yaitu multiple chois.

Komplain yang disampaikan sahabat dan kerabat GMRI yang juga disertai oleh Sang Permaisuri, ditanggapi dengan enteng seakan tiada dosa kesalahan yang harus dipertanggung jawabkan. Sebab menurut Pakde Toro sendiri, begitulah ceritanya dia merasa lebih berkewajiban untuk mengutus saudara angkatnya yang wafat itu pada waktu bersamaan untuk mempersiapkan segala keperluan dan urusan hajat pernikahan yang nyaris bersamaan waktunya itu.

Pendek cerita tentang Pakde Toro yang telah membuat persepsi hadirin jadi salah tafsir untuk hadir pada acara resepsi dari pernikahan yang juga dilaksanakan di kawasan tempat tinggalnya – Kalibata, Jakarta Selatan – tak hanya meriah, tapi juga unik karena sang sohibul hajat memang dipercaya sebagai penganut tarekat ultra sosialis yang paling modern pada abad ini. Minimal bisa ditilik dari dokumentasi foto yang terekam, justru wajah yang lebih pantas disebut sebagai wali dari pernikahan dengan latar karangan bunga yang dikirim oleh Romo Sunarjo Sumargono, sesepuh spiritual yang tak sempat hadir, hingga dapat terhindar dari undangan yang juga bisa salah ditafsirkan itu.

 

Kalibata, 5 April 2026

News Feed