Wanita Indonesia Hari Sebagai Pekerja Tak lagi Terbelenggu Oleh Perkawinan*

Umum67 views

Jacob Ereste :

Jumlah kaum wanita Indonesia berdasarkan sensus penduduk tahun 2020 sekitar 133.54 juta jiwa, atau sekitar 49,42 persen dari total penduduk Indonesia. Sementara jumlah penduduk laki-laki sekitar 136,66 juta jiwa, atau sekitar 50,58 persen dari total penduduk Indonesia.

Dari jumlah kaum wanita sebanyak itu berdasarkan Data Kependudukan Bersih (DKB) pada semester I tahun 2024, tercatat 5.049.369 jiwa berstatus janda cerai hidup, dan 12.949.138 jiwa cerai mati. Jika dijumlahkan jumlah wanita Indonesia yang telah menjanda sekitar 31,18 persen dari total famale breadwinners.

Dara yang dikulik Atlantika Institut Nusantara dari berbagai sumber ini memang agak meragukan akuraritasnya. Sebab data dari Kemendagri per 31 Desember 2024 mengungkap wanita Indonesia yang sudah menikah 136,4 juta jiwa, atau sekitar 47.86 persen dari total populasi Indonesia.

Kekacauan data tentang wanita Indonesia yang belum menikah saja yang dirilis Ditjen Dukcapil Kemendagri pada tahun 2024, mencatat sebanyak 128,38 juta jiwa wanita Indonesia yang belum menikah, atau 45 persen dari total populasi Indonesia.

Dari data Kemendagri juga menyebutkan untuk generasi muda — usia 16 hingga 30 tahun — tercatat sekitar 68,75 persen belum menikah. Sejumlah 29,10 persen sudah menikah, selebihnya berstatus cerai hidup dan cerai mati. Pada umumnya, wanita Indonesia menikah pada kisaran usia 19 tahun hingga 24 tahun sebanyak 49.58 persen yg ABG tercatat pada tahun 2024.

Disebutkan juga faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan generasi muda untuk menunda pernikahan antara lain karena masih mau meneruskan pendidikan dan karier, lantaran biaya hidup yang semakin berat, serta perubahan nilai sosial yang mereka alami pada lima tahun terakhir.

Berdasarkan data BPS, tahun 2024 Atlantika Institut Nusantara memperoleh data kaum laki-laki yang sudah menikah di Indonesia sekitar 29,10 persen dari total populasi pemuda berusia 16-30 tahun. Kalkulasi serupa ini perlu dilakukan pada momentum peringatan hari Kartini pada tahun 2026 yang telah menjadi simbol bagi kaum wanita Indonesia, agar tidak sekedar sebatas seremoni belaka tanpa perenungan dan perenungan yang lebih berarti untuk melihat posisi kaum wanita Indonesia hari ini.

Setidaknya untuk melihat status wanita Indonesia hari ini dalam perkawinan — pada peringatan hari Kartini 2026 — cukup relevan untuk dilakukan, menilik fenomena dari kemandirian kaum wanita Indonesia masa kini — yang pasti berbeda pada saat jaman Raden Ajeng Kartini dan setelahnya menjadi selir Bupati di Jepara — perlu direnungkan setidaknya sikap mandiri kaum wanita Indonesia sekarang, sudah lebih maju dalam berbagai profesi pada bidang pekerjaannya.

Banten, 12 April 2026

News Feed