Waspadai Gangguan Stabilitas Nasional oleh Kekuatan Asing

Nasional54 views

 

Bambang Soesatyo
Anggota DPR RI/Ketua MPR RI
ke-15/Ketua DPR RI ke-20/Ketua komisi III DPR RI ke-7/Dosen Pascasarjana (S3) Ilmu Hukum Universitas Borobudur, Universitas Jayabaya dan Universitas Pertahanan (Unhan)

KONSISTENSI Presiden Prabowo Subianto mengajak semua elemen masyarakat untuk mewaspadai gangguan stabilitas nasional oleh kekuatan asing sangat beralasan dan karenanya patut diapresiasi. Oleh alasan kepentingan geopolitik maupun alasan ekonomi, catatan historis menunjukan bahwa Indonesia selalu menjadi target campur tangan kekuatan asing melalui berbagai pendekatan.

Kehadiran unsur asing di setiap negara melalui pendekatan resmi ditandai dengan penempatan para diplomat dengan sejumlah staf. Pendekatan resmi lainnya adalah penugasan tenaga asing pada ragam kantor badan-badan multilateral. Mode pendekatan lainnya adalah kehadiran para pebisnis asing yang bermitra dengan pengusaha lokal. Tetapi, sejarah juga mencatat dan membuktikan bahwa ada penempatan tidak resmi tenaga asing di negara lain yang kehadirannya disamarkan. Lazim dikenal dengan sebutan intelijen atau agen rahasia. Populer dalam sebutan lokal adalah mata-mata.

Praktik penempatan atau penugasan intelijen asing dari negara yang satu ke banyak negara lain masih terjadi hingga hari-hari ini. Intensitas kehadiran dan kegiatan intelijen asing di setiap negara disesuaikan dengan tujuan atau kepentingan, utamanya dalam konteks kepentingan geopolitik dan ekonomi. Aktivitasnya beragam namun sejatinya terlarang atau ilegal. Lazimnya adalah mengumpulkan atau membeli data dan informasi, membangun jaringan melalui kerjasama dengan oknum warga lokal, mengungkap dan menyebarluaskan hoaxs atau kasus dengan tujuan menyulut emosi publik setempat untuk menciptakan instabilitas.

Hari-hari ini, sebagaimana bisa disimak bersama, sedang terjadi eskalasi ketegangan geopolitik di berbagai kawasan. Ambisi Amerika Serikat (AS) menguasai Greenland di Arktik direspons sangat keras oleh negara-negara di Eropa barat., Ketegangan di Iran memancing keterlibatan sejumlah negara asing, Di Afrika, terjadi perang kepentingan yang lagi-lagi melibatkan sejumlah negara dari benua lain. Amerika utara dan selatan pun sudah menjadi titik didih karena ancaman AS menyerang beberapa negara di kawasan itu.

Di sela-sela ketegangan pada wilayah berpotensi konflik itu, komunitas intelijen asing dari berbagai negara sedang bekerja. Sudah barang tentu lalu lintas informasi yang bersumber dari mereka sedang bersliweran. Muatan informasinya tak lebih dari kelemahan dan kekuatan lawan serta peluang. Saling melancarkan serangan militer antara Iran dan Israel pada Juni 2025 memberi gambaran cukup jelas tentang bagaimana intelijen kedua negara itu bekerja.

Selain dipicu oleh potensi konflik, hubungan antar-negara yang tidak harmonis atau tidak memiiki hubungan diplomatik pun tak jarang terlibat perang intelijen. Ketika Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan suatu negara karena alasan tertentu, itulah salah satu alasan bagi hadirnya intelijen dari negara yang tidak bermitra diplomatik dengan Indonesia.

Jadi, ketika Indonesia konsisten mendukung perjuangan rakyat Palestina dengan mengecam Israel sebagai pihak yang menghambat perdamaian di Timur Tengah, tidak tertutup kemungkinan bahwa jaringan intelijen Israel pun cawe-cawe di Indonesia. Selain itu, potensi sumber daya alam (SDA) Indonesia yang melimpah pun menjadi daya tarik untuk beroperasinya intelijen asing di negara ini.

Beroperasinya jaringan intelijen asing di Indonesia bukan cerita atau sinyalemen baru. Seturut penuturan para pendahulu atau generasi kakek-nenek, rangkaian peristiwa besar yang pernah terjadi di Indonesia tak pernah luput dari campur tangan kekuatan asing melalui jaringan intelijen mereka. Dalam tragedi 1965, unsur asing yang beraktivitas di dalam negeri menyerahkan daftar anggota komunis (PKI) kepada pihak berwenang. Pada kerusuhan Mei 1998, jaringan telekomunikasi sempat diganggu sehingga aparatur negara kesulitan berkoordinasi. Saat itu, hanya jaringan telekomunikasi pada sebuah properti yang masih berfungsi efektif dan bisa digunakan. Ternyata, properti itu adalah kompleks perkantoran diplomat asing.

Pada dekade 1990-an, seorang wartawan bercerita tentang bagaimana dia didekati sosok yang kemudian diketahui sebagai anggota jaringan intelijen asing yang beroperasi di Indonesia. Kepada wartawan itu, diperlihatkan daftar pejabat yang melakukan korupsi. Daftar itu cukup rinci karena menyebutkan siapa melakukan korupsi pada proyek apa, dan tentu saja nilai korupsinya. Sosok pemilik daftar koruptor itu mengaku kalau informasinya sangat akurat karena diperoleh langsung dari para pihak yang terlibat pada setiap proyek. Cerita ini dibagikan si wartawan kepada koleganya.

Fakta yang juga relevan dikemukakan untuk sekadar menggambarkan bagaimana tertutupnya kerja intelijen asing adalah kunjungan terbuka pemimpin Israel ke Indonesia. Dalam sebuah proses persiapan yang sangat dirahasiakan, Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin mengunjungi Indonesia pada pekan kedua Oktober 1993 dan bertemu dengan Presiden Soeharto. Kunjungan itu bisa terlaksana kendati kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik. Semuanya hanya bisa terkejut.

Informasi lain yang juga berbau bocoran dari intelijen asing dan cukup mengejutkan adalah terungkapnya penyelundupan 5,3 juta ton bijih nikel (nickel ore) dari Indonesia untuk kemudian diekspor ke Tiongkok pada periode Januari 2020 sampai Juni 2022. Padahal, sejak awal tahun 2020, pemerintah Indonesia sudah melarang ekspor bijih nikel. Seperti itulah sekilas gambaran tentang bagaimana intelijen asing beroperasi di setiap negara yang ditargetkan.

Jadi, ajakan Presiden Prabowo Subianto kepada semua elemen masyarakat untuk selalu mewaspadai gangguan stabilitas nasional oleh kekuatan asing sangat beralasan, dan karenanya patut diapresiasi. Ajakan itu tentu saja tidak berniat membatasi sikap kritis masyarakat kepada pemerintah. Arus kritik harus dibiarkan hidup dan menggema di ruang publik. Namun, gelombang kritik sekali-kali tidak boleh mengganggu stabilitas nasional, apalagi menimbulkan chaos.

Salah satu tujuan utama dari operasi intelijen asing di setiap negara yang menjadi target adalah menciptakan instabilitas yang berlarut-larut untuk mengurasi energi politik, ekonomi dan sosial. Untuk mewujudkan tujuan itu, intelijen asing melancarkan perang informasi dengan menyebarluaskan hoaxs dan manipulasi opini publik melalui sarana media sosial. Patut juga untuk diwaspadai adalah kemungkinan mengeksploitasi isu SARA (suku, agama, ras dan antar-golongan). Semua aktivitas itu bertujuan menciptakan polarisasi ekstrim, mempertajam konflik horizontal dan berujung pada target mereduksi kepercayaan rakyat kepada negara dan pemerintah.

Sekali lagi, ajakan Presiden Prabowo Subianto kepada semua elemen masyarakat untuk selalu mewaspadai gangguan stabilitas nasional oleh kekuatan asing menjadi relevan untuk hari-hari ini. Adalah fakta bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja karena tatanan global sudah porak poranda. Bersamaan dengan itu, terjadi eskalasi ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia. Dengan kecenderungan dunia seperti itu, pilihan terbaik bagi segenap elemen masyarakat Indonesia adalah selalu waspada serta tetap kritis, dan dengan bijaksana selalu merawat stabilitas nasional dan ketertiban umum demi kebaikan bersama. ***

News Feed