Jaga Kampung, Jaga Adab: Gagasan David Darmawan Membawa Ekonomi Masyarakat Adat ke Panggung Global

Nasional26 views

Teks Foto: Ilustrasi konsep ekosistem ekonomi masyarakat adat yang memadukan teknologi, AI, blockchain, pasar modal, dan prinsip keberlanjutan sebagai bagian dari gagasan transformasi ekonomi berbasis kepemilikan komunitas. (Foto: Dok./Istimewa)

Jakarta , KESBANG||NEWS— Di tengah deretan gedung pencakar langit yang membentang dari Sudirman hingga Thamrin, sebuah gagasan tentang masa depan ekonomi justru tumbuh dari akar budaya Betawi. Bukan semata berbicara tentang pelestarian tradisi, tetapi mengenai bagaimana masyarakat adat dapat membangun kepemilikan, kemandirian, dan posisi strategis dalam arus ekonomi global.

Bagi David Darmawan, tokoh Betawi yang aktif mengangkat isu tata kelola aset komunitas, pembangunan berkelanjutan, dan pemanfaatan teknologi keuangan, menjaga kampung tidak cukup hanya dengan mempertahankan rumah adat atau menggelar festival budaya.

Menjaga kampung, dalam pandangannya, juga berarti memastikan generasi mendatang memiliki fondasi ekonomi yang kuat dan berkelanjutan.

Prinsip yang kerap ia sampaikan sederhana, tetapi memiliki makna mendalam.

“Jaga kampung, jaga adab.”

Nilai tersebut dipandang sebagai bagian dari pesan luhur masyarakat Betawi: kemajuan tidak boleh menghilangkan identitas, sementara modernisasi harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap budaya dan nilai kemanusiaan.

Dari Kampung Betawi Menuju Ekonomi Global

Sebagai anak Betawi yang lahir dan tumbuh di Jakarta, David menyaksikan langsung perubahan wajah ibu kota. Kawasan yang dahulu menjadi ruang hidup masyarakat lokal perlahan berkembang menjadi pusat bisnis, kawasan komersial, dan permukiman modern.

Baginya, persoalan terbesar bukan hanya perubahan fisik kota. Tantangan yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat lokal tetap menjadi bagian sekaligus memperoleh manfaat dari pertumbuhan ekonomi yang berlangsung di atas ruang kehidupannya.

Dari pemikiran tersebut lahir gagasan untuk mempertemukan teknologi blockchain, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), pasar modal, dan prinsip keuangan hijau atau green finance sebagai bagian dari instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat adat.

David memandang aset komunitas, mulai dari potensi ekonomi, kekayaan budaya, hingga sumber daya yang dikelola secara berkelanjutan, tidak semestinya hanya dilihat sebagai warisan sejarah.

Aset tersebut dapat dikembangkan menjadi modal pembangunan apabila dikelola secara profesional, transparan, bertanggung jawab, dan berorientasi jangka panjang.

Teknologi digital, menurut pandangannya, berpotensi membantu memperkuat pencatatan aset, meningkatkan transparansi tata kelola, serta membuka akses terhadap berbagai skema pembiayaan yang selama ini sulit dijangkau komunitas lokal.

Dari Penerima Bantuan Menjadi Pemilik

David menilai paradigma pembangunan masyarakat adat perlu bergerak menuju pendekatan baru.

Selama bertahun-tahun, berbagai program pemberdayaan kerap bertumpu pada bantuan, hibah, dan proyek jangka pendek. Padahal, tantangan ekonomi berkembang semakin kompleks dan membutuhkan kelembagaan yang kuat.

Masyarakat adat, menurutnya, membutuhkan instrumen yang memungkinkan mereka membangun aset produktif, memperkuat kelembagaan ekonomi, dan menciptakan sumber pendapatan berkelanjutan.

Gagasan tersebut mencakup pengembangan koperasi modern, perusahaan berbasis komunitas, hingga pemanfaatan instrumen pasar modal sebagai alternatif pembiayaan dengan tetap mengedepankan tata kelola yang baik dan kepatuhan terhadap regulasi.

“Bukan sekadar menerima bantuan, tetapi ikut memiliki dan membangun nilai ekonomi,” menjadi salah satu pemikiran yang kerap disuarakannya.

Perubahan paradigma dari penerima manfaat menjadi pemilik dinilai penting agar masyarakat tidak terus berada di pinggir arus pembangunan.

Keuangan Hijau sebagai Jalan Ekonomi Masa Depan

Isu lingkungan menjadi bagian penting dalam visi tersebut.

David melihat ekonomi masa depan akan semakin berkaitan dengan keberlanjutan, konservasi, dan pengelolaan sumber daya secara bertanggung jawab.

Karena itu, berbagai instrumen seperti pembiayaan hijau, investasi berkelanjutan, pasar karbon, serta digitalisasi tata kelola aset menjadi bidang yang perlu dipahami dan dikembangkan secara serius.

Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Potensi tersebut, dalam pandangannya, dapat mengambil posisi penting dalam transformasi ekonomi hijau dunia apabila didukung tata kelola yang kuat, teknologi yang tepat, dan perlindungan terhadap kepentingan masyarakat.

AI dan Blockchain untuk Transparansi

Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan dan blockchain turut membuka peluang baru bagi komunitas lokal.

Teknologi tersebut tidak semestinya hanya menjadi tren digital atau milik perusahaan besar. Jika diterapkan secara tepat, teknologi dapat membantu meningkatkan akuntabilitas, efisiensi administrasi, pencatatan aset, serta transparansi distribusi manfaat ekonomi.

Namun, David menekankan bahwa penerapan teknologi harus tetap berjalan dalam koridor hukum nasional, perlindungan masyarakat, dan prinsip tata kelola yang bertanggung jawab.

Teknologi, baginya, adalah instrumen. Tujuan akhirnya tetap pada peningkatan kesejahteraan dan penguatan posisi masyarakat.

Menjaga Identitas di Tengah Kota Global

Jakarta sebagai kota global tidak seharusnya membuat masyarakat Betawi kehilangan ruang untuk tumbuh dan berkembang.

Sebaliknya, identitas budaya dapat menjadi fondasi dalam membangun daya saing ekonomi baru.

Kuliner, seni pertunjukan, kerajinan, sejarah kampung, hingga nilai gotong royong memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui ekonomi kreatif, digitalisasi, dan kolaborasi lintas sektor.

Visi tersebut bukan sekadar menempatkan budaya sebagai warisan masa lalu yang dipajang dan dikenang.

Budaya harus mampu hidup, berkembang, serta memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat yang menjaganya.

Menyatukan Tradisi dan Inovasi

Di balik gagasan tentang blockchain, AI, pasar modal, dan keuangan hijau, David tetap berpijak pada sebuah pesan sederhana yang diwariskan para orang tua Betawi.

Kemajuan tidak boleh membuat seseorang lupa kepada kampungnya.

Teknologi harus memperkuat nilai kemanusiaan.

Dan pembangunan ekonomi tidak semestinya hanya menghasilkan angka pertumbuhan, tetapi juga menjaga martabat masyarakat yang telah lebih dahulu membangun kehidupan dan peradaban kota.

Di tengah derasnya transformasi digital dan ekonomi global, gagasan tersebut menawarkan perspektif berbeda: modernisasi yang tetap berpijak pada budaya dan kepemilikan masyarakat.

Di situlah makna “jaga kampung, jaga adab” menemukan relevansinya.

Sebuah ajakan agar kemajuan ekonomi berjalan beriringan dengan identitas, keberlanjutan, dan tanggung jawab kepada generasi yang akan datang.

Keterangan Foto

Foto 1:
David Darmawan dalam sebuah forum pertemuan. Gagasannya menekankan pentingnya penguatan tata kelola aset komunitas, teknologi, dan ekonomi berkelanjutan sebagai fondasi kemandirian masyarakat adat. (Foto: Dok./Istimewa)

Foto 2:
Ilustrasi konsep ekosistem ekonomi masyarakat adat yang memadukan teknologi, AI, blockchain, pasar modal, dan prinsip keberlanjutan sebagai bagian dari gagasan transformasi ekonomi berbasis kepemilikan komunitas. (Foto: Dok./Istimewa)

Foto 3:
David Darmawan dalam kegiatan bernuansa budaya Betawi. Semangat “Jaga Kampung, Jaga Adab” menjadi bagian dari gagasan menyatukan identitas budaya, inovasi, dan pembangunan ekonomi masa depan. (Foto: Dok./Istimewa)

Catatan saya: untuk Foto 1 dan Foto 3, nama dalam caption saya dasarkan pada konteks/naskah yang Anda berikan, bukan identifikasi wajah dari foto.

Kalau Yangmulia berkenan, saya juga bisa buatkan versi rilis pers yang lebih “meledak” dan bernilai headline media nasional seperti Kompas, Detik, Antara, CNBC Indonesia atau Bisnis Indonesia, dengan angle utama “aset masyarakat adat masuk ekosistem pasar modal dan keuangan hijau global”. (Red/Bar.S)

News Feed