– Keamanan Humanis Jadi Kunci Sukses Sidang Pleno XII FABC

Nasional23 views

 

JAKARTA – Keberhasilan penyelenggaraan Sidang Pleno XII Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) 2026 di Jakarta tidak hanya ditandai dengan lancarnya seluruh agenda para uskup se-Asia, tetapi juga terciptanya situasi yang aman, nyaman, dan penuh semangat persaudaraan.

Di balik suksesnya perhelatan gerejawi berskala internasional tersebut, tim pengamanan yang dipimpin Brigjen TNI (Purn.) P. Gunung Sarasmoro, S.E., M.E., dan Irjen Pol (Purn.) Herry Dahana, S.H., M.Si., yang keduanya berasal dari Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI) atau Keuskupan Umat Katolik di lingkungan TNI-Polri, mengedepankan pendekatan profesional, humanis, dan tidak mengganggu jalannya kegiatan rohani.

Brigjen TNI (Purn.) P. Gunung Sarasmoro menegaskan, filosofi pengamanan yang diterapkan selama Sidang Pleno XII FABC bukanlah menghadirkan kekuatan secara mencolok, melainkan memastikan seluruh peserta dapat mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan rasa aman tanpa merasa diawasi secara berlebihan.

“Bagi kami, ukuran keberhasilan pengamanan bukanlah banyaknya personel yang terlihat, melainkan ketika para peserta dapat berdoa, berdialog, dan menjalankan seluruh agenda dengan tenang tanpa pernah merasa sedang dijaga secara berlebihan. Filosofi yang kami pegang adalah security that is present, but not intrusive. Keamanan harus hadir, namun tidak mengganggu,” ujar Gunung Sarasmoro.

Menurutnya, pendekatan tersebut diwujudkan melalui sistem pengamanan yang adaptif, berbasis pencegahan, serta mengedepankan sikap ramah sehingga suasana tetap hangat dan mencerminkan wajah Indonesia yang bersahabat.

Sementara itu, Irjen Pol (Purn.) Herry Dahana menegaskan bahwa dalam kegiatan internasional seperti Sidang Pleno XII FABC, keamanan tidak dapat dipisahkan dari keramahtamahan.

“Keamanan dan hospitality bukan dua hal yang bertentangan. Justru keduanya harus berjalan seiring. Setiap petugas kami memahami bahwa mereka bukan hanya menjalankan fungsi pengamanan, tetapi juga menjadi wajah pertama Indonesia yang dilihat para tamu internasional saat para delegasi dari berbagai negara tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Karena itu, pelayanan yang sopan, komunikasi yang baik, serta penghormatan terhadap keberagaman menjadi bagian dari tugas kami,” katanya.

Menghadapi dinamika keamanan global yang terus berkembang, Herry menjelaskan tantangan terbesar saat ini bukan hanya ancaman fisik, tetapi juga berbagai potensi risiko yang berkembang cepat, termasuk di ruang digital.

“Kami mengedepankan deteksi dini, koordinasi lintas instansi, pertukaran informasi secara cepat, serta kesiapsiagaan yang terukur agar setiap potensi gangguan dapat diantisipasi sebelum berkembang menjadi masalah,” jelasnya.

Menurut Gunung Sarasmoro, keberhasilan pengamanan Sidang Pleno XII FABC merupakan buah sinergi antara TNI, Polri, pemerintah, pemangku kepentingan di kawasan bandara, panitia FABC, Keuskupan TNI-Polri (OCI), serta seluruh unsur pendukung lainnya.

“Tidak ada satu institusi pun yang dapat bekerja sendiri. Masing-masing menjalankan fungsi sesuai kewenangannya, tetapi memiliki tujuan yang sama, yakni memberikan rasa aman kepada seluruh peserta. Kolaborasi inilah yang menjadi wajah nyata semangat gotong royong Indonesia,” ungkapnya.

Pengamanan juga diawali dengan pemetaan risiko secara menyeluruh, mulai dari identifikasi potensi kerawanan, penyusunan langkah mitigasi, hingga penyiapan rencana kontinjensi bagi seluruh agenda maupun tamu VIP.

“Prinsip kami sederhana, setiap potensi risiko harus dikelola secara terukur sebelum berkembang menjadi ancaman nyata, dengan tetap menghormati kenyamanan dan privasi para tamu,” kata Herry.

Lebih jauh, Gunung Sarasmoro menilai keberhasilan penyelenggaraan Sidang Pleno XII FABC menjadi bukti bahwa Indonesia mampu menjadi rumah bagi dialog lintas bangsa dan lintas agama.

“Kehadiran para uskup dari berbagai negara yang dapat menjalankan seluruh kegiatan dengan aman dan nyaman menunjukkan Indonesia memiliki modal sosial yang kuat berupa toleransi, persaudaraan, dan semangat hidup berdampingan dalam keberagaman. Nilai inilah yang harus terus kita jaga,” ujarnya.

Bagi kedua purnawirawan yang kini mengabdi di lingkungan Gereja melalui OCI, keamanan memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar menjaga ketertiban.

“Hakikat keamanan adalah melindungi martabat manusia. Ketika seseorang merasa aman, ia dapat beribadah dengan khusyuk, bekerja dengan tenang, berdialog secara terbuka, dan membangun persaudaraan tanpa rasa takut. Karena itu, keamanan adalah bentuk pelayanan kepada sesama,” tutur Herry.

Senada, Gunung Sarasmoro menambahkan bahwa pengalaman mengawal Sidang Pleno XII FABC semakin menegaskan pentingnya membangun kepercayaan di antara seluruh pihak.

“Pengamanan yang efektif tidak hanya dibangun melalui pagar, kendaraan, atau personel, tetapi melalui kepercayaan. Ketika seluruh pihak saling percaya, komunikasi menjadi lebih terbuka, koordinasi menjadi lebih mudah, dan setiap persoalan dapat diselesaikan lebih cepat,” katanya.

Menurutnya, penghargaan terbesar bagi tim pengamanan bukan sekadar tidak adanya insiden selama penyelenggaraan Sidang Pleno XII FABC, melainkan ketika para peserta kembali ke negara masing-masing dengan membawa kesan positif tentang Indonesia.

“Momen yang paling membanggakan adalah ketika para peserta meninggalkan Indonesia dengan membawa kesan bahwa mereka merasa aman, dihormati, dan diterima sebagai saudara. Itulah penghargaan terbesar bagi setiap insan yang bertugas di bidang keamanan,” ujar Gunung Sarasmoro.

Menutup wawancara, Herry Dahana mengajak generasi muda memandang keamanan sebagai tanggung jawab bersama, bukan semata-mata tugas aparat negara.

“Perdamaian lahir dari sikap saling menghormati, menaati aturan, menjaga toleransi, menolak kekerasan, serta peduli terhadap sesama. Jika seluruh elemen bangsa memiliki kesadaran tersebut, Indonesia akan semakin kuat sebagai bangsa yang damai, beradab, dan dihormati dunia,” pungkasnya.

News Feed