Ketum Pasprobo Mengajak Elemen Bangsa Bersatu Menghadapi Gejolak Ekonomi Global

Nasional551 views

 

Jakarta – Melemahnya mata uang rupiah, menjadi introspeksi dan evaluasi penting bagi para pemangku kebijakan perekonomian Indonesia. Melemahnya rupiah menjadi catatan penting Tim Ekonomi Kabinet Merah Putih Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Masyarakat tidak perlu panik yang berlebihan atau melampaui batas. Presiden Prabowo Subianto bersama Tim Ekomominya telah menyusun langkah-langkah antisipasif, taktis dan strategis dalam menghadapi kondisi ekonomi nasional, sehingga Indonesia mampu menghadapi situasi ekonomi nasional dalam guncangan melemahnya mata uang rupiah secara tepat, solutif dan konklusif,” kata Ketua Umum Pasukan Pro Prabowo Subianto (PASPROBO) Saiful Chaniago kepada wartawan di Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Saiful mengatakan, harus diakui bahwa pelemahan rupiah yang terus terjadi menjadi sorotan penting dalam perekonomian nasional. Hal ini, kata Saiful tidak saja berdampak pada biaya impor, penurunan nilai tukar rupiah menjadi cerminan kondisi ekonomi domestik, juga berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan publik dan para investor.

“Ada beberapa faktor penyebab terjadinya pelemahan rupiah dari dua sisi. Pertama, faktor global dan kedua, faktor domestik. Faktor global terkait dengan upaya kebijakan Amerika Serikat dalam percaturan ekonomi terhadap Indonesia. Hal ini menstimulan lahirnya penyebab ketidakpastian di pasar internasional,” kata Saiful.

Menurut Saiful, berbagai kebijakan Amerika Serikat berpengaruh terhadap kondisi obyektif ekonomi dunia dan pasar keuangan yang berimbas pada penurunan nilai tukar berbagai mata uang, termasuk mata uang Indonesia, rupiah.

Karena itu, Saiful yakin dan optimistis, Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Tim Ekonomi Kabinet Merah Putih, mampu menghadapinya, bertahan dan keluar dari guncangan dan gejolak ekonomi dunia.

Saiful menegaskan bahwa selain harus menghadapi dan mengantisipasi faktor eksternal, Indonesia harus mampu mengatasi faktor internal yang juga berpengaruh pada melemahnya rupiah.

“Ada pengaruh signifikan terhadap pelemahan tehadap mata uang rupiah. Katakanlah, ketidakstabilan politik dan ekonomi di dalam negeri. Contohnya, penurunan harga komoditas dan kebijakan yang tidak konsisten, yang membuat para investor merasa ragu dan menarik investasinya,” kata Saiful.

Tentu saja, kata Saiful, dampak pelemahan rupiah terutama bagi para pengusaha yang bergantung pada bahan baku impor. Karena itu, kondisi tersebut menyebabkan harga barang dan produksi dalam negeri ikut naik dan bahkan memicu inflasi.

Di sisi lain, menurut Saiful, Indonesia sebagai negara berpenduduk besar, harus optimistis, bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk tetap menarik investasi di Asia Tenggara bahkan di Asia.

“Saya sangat yakin, Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bergerak cepat dan akseleraitif. Indonesia yang memiliki pasar besar dan sebagai negara dengan daya tarik yang kuat, untuk menarik para investor dari mancanegara untuk menanam investasinya di Indonesia. Dan untuk itu, perlu diciptakan iklim usaha yang kondusif, dengan memberikan insentif bagi investor asing dan menciptakan kebijakan, stabilitas dan kondusifitas,” kata Saiful.

Sebagai anak bangsa, Saiful mengajak berbagai elemen bangsa untuk berhimpun dan membersamai Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, menghadapi situasi ekonomi global dan situasi geopolitik yang sedang bergejolak.

News Feed