Listyo Sigit dan Menjaga Nyala Api Hoegeng Di Balik Tembok Adhyaksa

Nasional11 views

Oleh: R. HAIDAR ALWI – Pendiri Haidar Alwi Institite (HAI) sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, (Foto: istimewa)

Jakarta, KESBANG||NEWS – Nyala Api Hoegeng telah menerangi tembok Adhyaksa. Namun, sejarah mengajarkan bahwa menyalakan api sering kali lebih mudah daripada menjaganya tetap berkobar.

Api dapat dipadamkan dengan satu tiupan keras. Ia juga dapat dibiarkan mengecil perlahan—ditelan waktu, ditutupi kegaduhan, atau dikepung kesunyian—hingga rakyat lupa bahwa cahaya itu pernah ada.

Karena itu, keberanian Listyo Sigit membuka perkara yang menyeret mantan Jampidsus Febrie Adriansyah tidak boleh menjadi akhir cerita. Keberanian tersebut harus menjadi awal dari pengawalan panjang.

Sang pembawa api telah tiba di depan gerbang Adhyaksa.

Sekarang republik harus memastikan Api Hoegeng yang dibawa Listyo Sigit itu tidak padam di dalamnya.

*Api yang Telah Berpindah Tangan*

Polri telah mengerjakan bagian yang mungkin tidak pernah dibayangkan banyak orang.

Pintu telah diketuk. Ruangan telah diperiksa. Brankas telah dibuka. Uang dan emas telah diperlihatkan kepada publik. Sosok yang dahulu berdiri di balik meja penuntutan kini harus menjelaskan dirinya di hadapan hukum.

Langkah itu membutuhkan nyali seorang jenderal.

Listyo Sigit mengetahui bahwa setiap meter perjalanan perkara ini dapat mengguncang hubungan antarlembaga, membuka benturan kepentingan, dan mengundang tekanan dari segala arah.

Namun, ia juga mengetahui sesuatu yang jauh lebih penting. Jika hukum mundur karena takut kepada akibat politik, republik akan kehilangan alasan untuk mempercayai hukum.

Kini, Api Hoegeng telah berada di gedung bundar Adhyaksa. Polri telah membawa cahaya menembus gerbang. Kejaksaan memikul tanggung jawab sejarah untuk membawanya sampai ke ruang pengadilan.

Di sanalah kekuatan dua institusi akan diuji.

Apakah mereka akan berdiri bersama untuk melindungi hukum, atau membiarkan kehormatan korps berubah menjadi perisai bagi seseorang?

*Jangan Biarkan Keberanian Berjalan Sendirian*

Seorang jenderal dapat memerintahkan pasukannya maju, tetapi ia tidak dapat sendirian menjaga ingatan seluruh bangsa.

Listyo Sigit telah mengambil risiko kelembagaan. Kini rakyat harus mengambil bagian dalam menjaga keberanian itu agar tidak dikepung kesunyian.

Pengawalan publik bukanlah tekanan untuk menghukum Febrie tanpa pengadilan. Praduga tak bersalah wajib dihormati. Setiap orang berhak membela diri, menghadirkan bukti, dan memperoleh proses yang adil.

Namun, praduga tak bersalah tidak boleh disalahgunakan menjadi alasan untuk menghentikan pencarian kebenaran.

Keadilan tidak lahir dari penghukuman terburu-buru. Keadilan juga tidak lahir dari perkara yang dibiarkan menghilang tanpa ujung.

Rakyat harus memastikan setiap temuan memperoleh penjelasan. Setiap perbedaan perlakuan harus mempunyai dasar yang dapat diuji. Setiap perkembangan perkara harus disampaikan dengan terang.

Sebab di negeri yang terlalu sering dipaksa lupa, ingatan rakyat adalah benteng terakhir hukum.

*Musuh Terbesar Bernama Kesunyian*

Perkara besar tidak selalu mati karena dihentikan secara terbuka. Kadang-kadang ia dibuat lemah dengan cara yang jauh lebih halus.

Tidak ada pengumuman penutupan. Tidak ada perintah mundur. Tidak ada suara pintu dibanting.

Yang terdengar hanya kesunyian.

Hari berganti minggu. Minggu berubah menjadi bulan. Perhatian publik dialihkan. Berita baru datang bertubi-tubi. Nama-nama penting perlahan menghilang dari halaman depan. Perkara yang pernah mengguncang republik kemudian tersisa sebagai arsip yang jarang dibuka.

Di sanalah Api Hoegeng menghadapi ujian sesungguhnya.

Bukan ketika pintu pertama kali diketuk, tetapi ketika gema ketukan itu mulai melemah.

Rakyat tidak boleh membiarkan perkara ini tenggelam ke dasar ingatan. Media tidak boleh lelah mengikuti jejaknya. Masyarakat sipil tidak boleh berhenti meminta keterbukaan. Wakil rakyat tidak boleh hanya bersuara ketika kamera menyala.

Nyala Api Hoegeng harus dijaga bersama.

Bukan dengan amarah tanpa dasar, tetapi dengan keteguhan.

Bukan dengan fitnah, tetapi dengan fakta.

Bukan dengan penghakiman, tetapi dengan tuntutan agar hukum bekerja sampai tuntas.

*Bhayangkara Telah Menunjukkan Jalan*

Listyo Sigit telah mengembalikan satu keyakinan yang lama dirindukan. Polisi dapat berdiri tegak ketika berhadapan dengan orang kuat.

Ia tidak memilih sasaran berdasarkan kelemahan lawan. Ia tidak menghitung keberanian dari rendahnya jabatan seseorang. Ketika jejak hukum mengarah ke wilayah yang penuh risiko, ia membiarkan penyidiknya masuk.

Inilah ukuran kepemimpinan yang sesungguhnya.

Seorang pemimpin besar bukan orang yang hanya tampak gagah ketika keadaan aman. Kebesaran seorang pemimpin terlihat ketika keputusan yang benar mempunyai harga yang mahal.

Dalam kasus ini, Listyo Sigit menunjukkan bahwa pangkat jenderal bukan perhiasan di pundak. Bintang adalah beban kehormatan. Tongkat komando adalah janji kepada rakyat bahwa kekuasaan polisi akan digunakan untuk menembus ketakutan, bukan memeliharanya.

Bhayangkara telah menunjukkan jalan.

Kini Adhyaksa harus membuktikan bahwa jalan itu tidak berakhir di depan pintunya.

*Kesempatan Emas bagi Adhyaksa*

Kejaksaan Agung sedang berdiri di hadapan kesempatan yang tidak datang dua kali.

Ia dapat memilih jalan defensif, seolah pemeriksaan terhadap seorang mantan pejabat merupakan penghinaan kepada seluruh korps.

Namun, ia juga dapat memilih jalan yang lebih agung. Membuka ruang bagi kebenaran dan memperlihatkan bahwa kehormatan Adhyaksa jauh lebih besar daripada kepentingan siapa pun.

Jika Febrie mampu menjelaskan seluruh temuan secara sah, proses hukum harus memulihkan namanya.

Jika bukti menunjukkan dugaan pelanggaran, perkara harus dibawa ke pengadilan tanpa takut kepada pangkat, jaringan, maupun riwayat pengabdian.

Keduanya hanya dapat dicapai melalui proses yang transparan.

Kejaksaan tidak akan kehilangan martabat karena memeriksa mantan pejabatnya. Martabat justru akan menjulang apabila institusi itu berani berkata kepada seluruh anggotanya: seragam ini adalah kehormatan, bukan benteng kekebalan.

Bayangkan apabila Polri dan Kejaksaan menuntaskan perkara ini secara terbuka.

Polri dikenang karena berani membuka jalan. Kejaksaan dikenang karena berani menyelesaikannya. Dua institusi besar tidak bertarung mempertahankan ego, tetapi berlomba mempertahankan Republik.

Itulah persaudaraan sejati para penegak hukum.

Bukan saling menutupi kegelapan, tetapi saling membantu membawa cahaya.

*Rakyat sebagai Penjaga Nyala Api Hoegeng*

Api Hoegeng tidak boleh hanya dijaga para jenderal, penyidik, atau jaksa.

Api itu harus hidup dalam ingatan masyarakat.

Rakyat harus mengawal perkara ini karena setiap upaya menegakkan hukum terhadap pejabat tinggi akan menentukan nasib jutaan orang kecil.

Bila hukum mampu mencapai puncak kekuasaan, masyarakat mempunyai alasan untuk percaya. Bila hukum kembali berhenti di depan jabatan, luka ketidakpercayaan akan semakin dalam.

Mengawal Api Hoegeng berarti menolak lupa bahwa pernah ada brankas yang dibuka.

Menolak lupa bahwa pernah ada uang dan emas yang menuntut penjelasan.

Menolak lupa bahwa hukum pernah mengetuk pintu seorang mantan pejabat tinggi.

Menolak lupa bahwa di balik keberanian para penyidik berdiri seorang Kapolri yang mempertaruhkan kehormatan kepemimpinannya agar perkara tersebut dapat diketahui rakyat.

Selama masyarakat mengingat, cahaya tidak mudah dipadamkan.

Selama media mencatat, jejak tidak mudah dihapus.

Selama hukum diawasi, kekuasaan tidak mudah mengunci kembali pintu yang telah terbuka.

*Jangan Biarkan Sang Pembawa Api Berdiri Sendiri*

Listyo Sigit telah menunaikan keberanian yang dituntut sejarah darinya.

Ia membawa Api Hoegeng keluar dari ruang kenangan dan menjadikannya tindakan nyata. Ia membuktikan bahwa nilai Hoegeng bukan dongeng tentang masa lalu, tetapi obor yang masih dapat menuntun kepolisian menghadapi kekuasaan hari ini.

Namun, keberanian seorang Kapolri tidak boleh dibiarkan berdiri sendirian.

Jika rakyat mengagumi langkahnya, rakyat harus ikut menjaganya.

Jika masyarakat percaya hukum harus berlaku setara, masyarakat harus terus mengawal prosesnya.

Jika bangsa ini merindukan lebih banyak polisi seperti Hoegeng, bangsa ini wajib berdiri di belakang polisi yang memilih keberanian ketika pilihannya mempunyai risiko.

Sebab seorang pemimpin akan semakin berani berjalan ketika mengetahui rakyat menjaga cahaya yang dibawanya.

*Dari Api Menjadi Matahari*

Hoegeng dahulu menyalakan api kecil di tengah gelapnya kekuasaan. Api itu terus diwariskan dari generasi ke generasi, menunggu seorang pemimpin yang bersedia membawanya kembali ke garis depan.

Di tangan Listyo Sigit, api itu tidak lagi bersembunyi sebagai kenangan.

Ia telah menjadi obor.

Obor itu menyeberangi halaman Trunojoyo, melewati pagar kekuasaan, dan menerangi tembok Adhyaksa. Cahayanya memperlihatkan bahwa bahkan benteng paling tinggi tetap dapat dijangkau hukum ketika keberanian memimpin barisan.

Sekarang obor itu harus dibesarkan.

Dijaga Polri dengan konsistensi.

Diteruskan Kejaksaan dengan integritas.

Dikawal media dengan ketekunan.

Dipertahankan rakyat dengan ingatan.

Bila seluruh kekuatan itu bersatu, Api Hoegeng tidak hanya menerangi satu perkara. Ia akan menjelma menjadi matahari penegakan hukum—cahaya yang memaksa setiap sudut kekuasaan keluar dari bayangan.

*Penutup: Api Itu Milik Republik*

Listyo Sigit telah menulis bagian awal keberanian.

Ia mengetuk pintu yang dianggap terlarang.

Ia membawa cahaya ke ruang yang lama tertutup.

Ia menunjukkan bahwa hukum masih mempunyai kaki untuk berjalan dan nyali untuk mendekati orang kuat.

Kini pena sejarah berpindah ke tangan Kejaksaan Agung, masyarakat, media, dan seluruh anak bangsa.

Jangan biarkan perkara ini berakhir sebagai keberanian yang kesepian.

Jangan biarkan Api Hoegeng mengecil karena waktu.

Jangan biarkan pintu yang telah dibuka Listyo Sigit ditutup kembali oleh tangan-tangan yang mengandalkan kelelahan rakyat.

Biarkan Listyo Sigit dikenang sebagai jenderal yang membawa Api Hoegeng menembus benteng kekuasaan.

Biarkan Kejaksaan Agung dikenang sebagai rumah keadilan yang menerima cahaya dan menjaganya tetap menyala.

Biarkan rakyat dikenang sebagai barisan yang tidak mundur sebelum kebenaran menemukan jalannya menuju pengadilan.

Karena api ini bukan hanya milik Hoegeng.

Bukan hanya milik Listyo Sigit.

Bukan hanya milik Polri atau Kejaksaan.

Api ini adalah nyala keberanian seluruh Republik Indonesia.

Listyo Sigit telah membawanya sampai ke jantung Adhyaksa.

Sekarang berdirilah di sekelilingnya.

Jaga cahayanya.

Rawat keberaniannya.

Pastikan nyalanya tidak redup sebelum hukum mengucapkan kata terakhir.

Sang pembawa api telah menunaikan panggilannya.

Kini giliran rakyat menjaga agar fajar benar-benar tiba.

Terimakasih

News Feed