TEKANKAN TRISAKTI: BERDIKARI DALAM EKONOMI DAN BERKEPRIBADIAN DALAM KEBUDAYAAN

Daerah79 views

 

Yogyakarta, 8 Agustus 2026 — Wali Kota Yogyakarta, Bung Hasto Wardoyo, hadir dan memberikan pidato politik dalam Konferensi Cabang (Konfercab) I Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Kota Yogyakarta yang digelar pada Jumat, 7 Agustus 2026, bertempat di Joglo Resto, Jeron Beteng, Siliran, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta.

Konfercab I GPM Kota Yogyakarta mengangkat tema “Mengumpulkan Yang Berserak Dengan Marhaenisme”. Agenda tersebut memiliki makna historis tersendiri karena diselenggarakan bertepatan dengan Haul ke-16 almarhum Soetardjo Suryoguritno, BSc, salah satu tokoh Marhaenis Indonesia.

Dalam pidato politiknya, Wali Kota Yogyakarta Bung Hasto Wardoyo menguraikan pentingnya mengaktualisasikan ajaran Trisakti Bung Karno dalam kehidupan berbangsa dan pembangunan daerah. Dua aspek yang mendapatkan penekanan khusus adalah berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan.

“Marhaenisme tidak boleh berhenti sebagai sebuah gagasan sejarah. Marhaenisme harus mampu diterjemahkan menjadi keberpihakan kepada rakyat, kemandirian ekonomi, serta pembangunan yang tetap berpijak pada kepribadian dan kebudayaan bangsa,” demikian substansi pidato politik yang disampaikan Bung Hasto di hadapan para kader GPM.

Menurut Antonius Fokki Ardiyanto, S.IP, Caretaker DPC GPM Kota Yogyakarta sekaligus Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga DPP GPM, kehadiran Wali Kota Yogyakarta dalam Konfercab I GPM memiliki arti penting karena menunjukkan bahwa gagasan Marhaenisme masih relevan untuk menjawab persoalan pembangunan dan kehidupan masyarakat Kota Yogyakarta.

“Pidato politik Bung Hasto menjadi bagian penting dalam Konfercab ini. Apa yang disampaikan mengenai Trisakti, khususnya berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan, sangat relevan dengan semangat GPM untuk menjadi organisasi pemuda yang tidak hanya berbicara tentang politik, tetapi juga hadir dalam persoalan ekonomi rakyat dan kebudayaan,” ujar Fokki.

Selain pidato politik Wali Kota Yogyakarta, Konfercab juga menghadirkan Bung Diasma, Ketua Umum Generasi Muda DPP Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI), yang memberikan perspektif mengenai hubungan antara Marhaenisme dan Pancasila.

Bung Diasma menjelaskan bahwa Pancasila dan Marhaenisme memiliki hubungan yang erat dalam konteks perjuangan membangun masyarakat yang berkeadilan sosial, berdaulat, serta menempatkan kepentingan rakyat sebagai orientasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara.

Konfercab I GPM Kota Yogyakarta secara resmi dibuka oleh Sekjen DPP GPM Bung Putra Naibaho. Dalam kesempatan tersebut, Bung Putra sekaligus memberikan gemblengan politik kepada sekitar 100 kader GPM Kota Yogyakarta yang hadir.

Gemblengan politik tersebut membahas sejarah perjuangan GPM, posisi GPM sebagai organisasi kepemudaan yang berakar pada pemikiran Marhaenisme, serta tantangan kader-kader muda Marhaenis dalam menerjemahkan ideologi perjuangan ke dalam realitas sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan hari ini.

Hadir pula dalam kegiatan tersebut Bung Bambang Setyo Martono, Bung Sunartjono selaku Dewan Pembina DPP GPM, Bung Riyanto Kuncoro selaku Ketua DPD GPM DIY sekaligus Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPP GPM, Bung Edy Santoso selaku Wakil Ketua Bidang Hukum dan HAM DPP GPM, serta sejumlah tokoh Marhaenis dan kader-kader GPM Kota Yogyakarta.

Fokki menegaskan bahwa tema “Mengumpulkan Yang Berserak Dengan Marhaenisme” bukan sekadar slogan Konfercab, melainkan menjadi mandat politik bagi kepengurusan GPM Kota Yogyakarta ke depan.

“Yang berserak itu adalah potensi pemuda, gagasan, kekuatan rakyat, serta semangat gotong royong yang selama ini ada tetapi belum terkonsolidasi. GPM harus mampu mengumpulkan seluruh potensi tersebut dalam satu gerakan yang berlandaskan Marhaenisme,” tegasnya.

Dalam Konfercab tersebut, Bung Jarot Kurniadi, kader dari Kemantren Gedongtengen, terpilih secara demokratis sebagai Ketua DPC GPM Kota Yogyakarta.

Selanjutnya, Bung Jarot Kurniadi bersama Bung Antonius Fokki Ardiyanto yang mewakili DPD GPM DIY dan Bung Bambang Setyo Martono ditetapkan sebagai formatur untuk menyusun kepengurusan DPC GPM Kota Yogyakarta.

Formatur diberikan waktu satu minggu untuk menyusun dan melengkapi struktur kepengurusan DPC GPM Kota Yogyakarta.

“Konfercab ini bukan akhir, tetapi awal dari konsolidasi GPM Kota Yogyakarta. Setelah kepengurusan terbentuk, pekerjaan yang lebih besar adalah memastikan GPM hadir di tengah rakyat, membangun kader, mengembangkan ekonomi kerakyatan, menjaga kebudayaan, serta memperjuangkan cita-cita Marhaenisme dalam kehidupan nyata,” pungkas Fokki.

Antonius Fokki Ardiyanto, S.IP Caretaker DPC Gerakan Pemuda Marhaenis Kota Yogyakarta/Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga DPP Gerakan Pemuda Marhaenis

News Feed