GPM Gunungkidul Membersamai Warga Petir dalam Upacara Adat Nyadran Petilasan Mbah Jobeh

Daerah14 views

 

GUNUNGKIDUL — Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Kabupaten Gunungkidul kembali menunjukkan komitmennya untuk hadir dan tumbuh bersama masyarakat melalui pendekatan kebudayaan. Hal tersebut diwujudkan dengan membersamai warga Kalurahan Petir dalam pelaksanaan upacara adat Nyadran di Petilasan Mbah Jobeh, tokoh yang dikenal sebagai cikal bakal pendiri Desa Petir pada tanggal 23 Agustus 2026.

Ketua DPC GPM Gunungkidul, Suradi, mengatakan bahwa keterlibatan GPM dalam tradisi masyarakat bukan sekadar menghadiri kegiatan adat, tetapi merupakan bagian dari upaya membangun gerakan yang berakar pada kehidupan rakyat.

«“GPM harus hadir di tengah-tengah rakyat, memahami kehidupan, tradisi dan kebudayaan yang tumbuh di masyarakat. Kebudayaan adalah bagian penting dari identitas dan kepribadian bangsa. Karena itu, kami ingin GPM Gunungkidul tidak berjarak dengan masyarakat,” ujar Suradi.»

Menurutnya, tradisi Nyadran memiliki nilai sosial dan kebudayaan yang penting karena menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga hubungan antargenerasi, menghormati leluhur serta merawat sejarah dan identitas lokal.

Sementara itu, Sigit selaku Ketua Dewan Pembina GPM Gunungkidul menyampaikan bahwa keterlibatan GPM dalam kegiatan kebudayaan merupakan implementasi dari ajaran Bung Karno, khususnya prinsip Trisakti, yakni berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

“Bung Karno mengajarkan kepada kita bahwa bangsa yang besar harus memiliki kepribadian dalam kebudayaan. Karena itu, kebudayaan rakyat tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang sekadar seremonial. Di dalamnya terdapat nilai gotong royong, persaudaraan, penghormatan terhadap sejarah dan jati diri masyarakat,” kata Sigit.

Ia menegaskan bahwa GPM Gunungkidul ke depan akan semakin mengembangkan pendekatan kebudayaan sebagai salah satu strategi untuk membumikan Marhaenisme di Kabupaten Gunungkidul.

Menurut Sigit, Marhaenisme tidak cukup hanya dibicarakan dalam forum-forum diskusi atau ruang kaderisasi, tetapi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Nilai-nilai kerakyatan, gotong royong, kemandirian, penghormatan terhadap tradisi serta keberpihakan kepada masyarakat kecil harus menjadi praktik nyata gerakan.

«“Ke depan, GPM Gunungkidul akan lebih banyak menggunakan pendekatan kebudayaan untuk membumikan Marhaenisme. Kita masuk melalui ruang-ruang kebudayaan masyarakat, karena di sanalah kita menemukan nilai-nilai kerakyatan yang sesungguhnya,” tegasnya.»

Nyadran Petilasan Mbah Jobeh juga menjadi momentum penting bagi GPM untuk mengenali kembali sejarah lokal Kalurahan Petir. Mbah Jobeh yang dipercaya sebagai cikal bakal pendiri Desa Petir menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat yang perlu terus dirawat dan diwariskan kepada generasi muda.

Suradi menambahkan, GPM ingin menjadikan generasi muda tidak tercerabut dari akar sejarah dan kebudayaannya sendiri. Menurutnya, modernisasi tidak boleh membuat anak muda kehilangan identitas dan pengetahuan tentang asal-usul masyarakatnya.

“Gerakan pemuda harus mampu menjadi jembatan antara tradisi dan masa depan. Anak muda harus maju, tetapi tidak boleh lupa dari mana mereka berasal. Inilah salah satu cara kita menjaga Marhaenisme tetap hidup dan relevan di tengah masyarakat,” pungkas Suradi.

GPM Gunungkidul menegaskan bahwa kebudayaan akan menjadi salah satu ruang strategis gerakan ke depan, dengan tetap menempatkan rakyat sebagai pusat perjuangan. Merawat kebudayaan, merawat sejarah, dan membersamai rakyat menjadi bagian dari ikhtiar membumikan Marhaenisme di Gunungkidul.

News Feed