KEMBALIKAN NEGARA KE TANGAN PARA PEMIKIR !.

Ekonomi, Opini90 views

 

Oleh: Saiful Huda Ems.

Memperhatikan semakin hancurnya tatanan pemerintahan, politik dan perekonomian negara setelah Indonesia dipimpin selama 10 tahun oleh Jokowi dan kemudian dilanjutkan oleh Prabowo Subianto, saya jadi teringat oleh nasihat dari filsuf ternama, yakni Plato.

Plato pernah memberikan nasihat bikaksana, yang jika disimpulkan akan berbunyi:”Negara akan rusak bila dipimpin oleh serdadu !. Hal ini bisa kita ketahui, saat membahas soal Timokrasi (Pemerintahan kaum militer/pecinta kehormatan), Plato menjelaskan bahwa:

“Negara yang dipimpin oleh orang-orang yang mencintai kehormatan dan kemenangan perang, akan lebih mengutamakan kekuatan daripada kebijaksanaan. Sehingga perlahan menjauh dari keadilan, dan akhirnya merosot ke bentuk pemerintahan yang lebih buruk”.

Timokrasi menurut Plato adalah bentuk pemerintahan yang dipimpin oleh orang-orang yang mengejar kehormatan dan kejayaan, yang biasa identik dengan militer. Istilah ini dibahas oleh Plato dalam bukunya Republic (Buku VIII), ketika Plato menjelaskan bagaimana negara ideal bisa mengalami kemerosotan.

Maka bagi Plato, negara ideal harus dipimpin oleh seorang Filsuf-Raja (Philosopher King), yaitu orang yang mencintai kebijaksanaan dan memahami kebaikan sejati. Nah, kalau kita mau jujur, sebetulnya Jokowi itu bukanlah typical Filsof-Raja (Philosopher King), melainkan lebih ke typical Ngibul King alias Raja Ngibul.

Sedangkan Pemerintahan Prabowo Subianto lebih dekat dengan apa yang dikatakan oleh Plato, sebagai Timokrasi. Karena itu tak heran kenapa Prabowo lebih suka mengejar kehormatan dan kejayaan, dengan seringnya Prabowo menyanjung-nyanjung dirinya sendiri, melalui halusinasi keberhasilan program-program kerjanya yang kacau dan gagal, serta romantisme keprajuritannya di masa lalu, di setiap orasi-orasinya yang selalu menggebu-gebu dan halu ingin disamakan dengan orasinya Bung Karno.

Kalau negara dibiarkan terus menerus dipimpin oleh Jenderal Gembos dan Bocil anak haram konstitusi, maka cepat atau lambat negara ini akan jatuh ke jurang kehancurannya. Oleh sebab itu, sudah sewajarnya jika kita sebagai rakyat mulai mempersiapkan sebaik-baiknya para calon pemimpin yang dari latar belakang pemikir.

Pemikir disini merupakan penyederhanaan dari istilah Filsuf-Raja (Philosopher-King) yang dicetuskan oleh Plato. Sebab untuk menemukan Filsuf-Raja saat ini sepertinya agak sulit didapatkan, di negeri yang alokasi dana untuk pendidikannya sudah diserobot untuk proyek MBG.

Revolusi sistemik memang sangat diperlukan dan harus lebih diutamakan daripada figur, namun di negara yang sudah dikuasai dan dirusak oleh Jokowi dan Prabowo seperti ini, memperbaiki sistem hanyalah ilusi untuk mengobati rasa frustasi.

Karena itu, daripada kita sibuk berdebat perbaiki sistem dahulu baru kemudian mencari figur pemimpin nasional atau sebaliknya, lebih baik kita putuskan saja sekarang: kembalikan negara ke tangan pemikir dan Indonesia akan berubah jauh lebih baik !. Bagaimana menurut anda?. Sapere aude !…(SHE).

25 Februari 2026.

Saiful Huda Ems (SHE).

News Feed