Ditolak Berjam-jam, Aksi Damai Investor SPPG di BGN Berujung Dorong-Dorongan dan Tangis Ibu dari Papua

Daerah, Nasional69 views

Kesbngnews.com – Aksi damai yang digelar investor dan pengelola SPPG wilayah 3T di depan kantor Badan Gizi Nasional (BGN), Kamis (23/7), berubah tegang setelah para peserta ditolak masuk dan berdialog selama berjam-jam. Situasi memanas ketika terjadi saling dorong antara massa aksi dengan petugas keamanan di gerbang masuk.

 

Seorang ibu asal Papua yang duduk bersila di tengah lapangan parkir BGN menangis histeris sambil berteriak mempertanyakan keadilan yang ia rasakan. Ibu tersebut, yang oleh rekan-rekannya disebut “Bunda Papua”, bahkan dijuluki “Ibu Nanik KW” karena wajahnya yang mirip dengan mantan Kepala BGN.

 

Dengan suara bergetar dan air mata mengalir, ia berteriak:

 

“Kenapa kalian jahat? Kenapa kalian korupsi, kami dikorbankan? Tuhan tidak buta! Tuhan melihat! Kami malu… kami ditagih hutang, ditanya-tanya kapan dapur buka. Kami bukan pengemis. Kami mitra!”

 

Tangisnya semakin menjadi ketika ia melihat teman-teman seperjuangannya didorong, ditarik-tarik, bahkan ada yang dicekik dan diseret paksa keluar dari area gedung oleh petugas keamanan. Ibu itu hanya bisa duduk di aspal sambil menutup wajah dengan kedua tangannya, tak kuasa menahan emosi setelah berjam-jam menunggu di bawah terik matahari.

 

Berjam-jam Ditolak Dialog

 

Menurut keterangan Ketua Umum APGI 3T, Herwil Junaidi Harefa, rombongan investor telah tiba sejak pagi dengan niat menyambut Kepala BGN yang baru, Sudaryono. Namun hingga siang hari, mereka tetap ditolak masuk dan tidak diberikan ruang untuk menyampaikan aspirasi secara langsung.

 

“Kami datang damai. Kami bawa karangan bunga. Tapi gerbang ditutup rapat, dan kami hanya diizinkan duduk di luar. Bahkan ketika ada yang mencoba mendekat, langsung didorong dan ditarik paksa,” ujar Herwil.

 

Aksi yang awalnya berlangsung tertib ini kemudian memanas setelah para peserta merasa semakin tidak dihargai. Beberapa peserta terlibat saling dorong dengan petugas keamanan di sekitar gerbang utama. Suasana semakin memuncak ketika seorang ibu dari Papua tidak dapat menahan tangisnya melihat kekerasan yang terjadi di depan matanya.

 

Kami Mitra, Bukan Musuh”

 

Dalam pernyataannya, APGI 3T menegaskan bahwa aksi ini bukan untuk mengganggu, melainkan untuk menyuarakan penderitaan ribuan investor yang telah menanamkan modal besar di wilayah terpencil. Mereka mengaku telah menanggung utang, kehilangan keluarga, dan bahkan ada yang meninggal dunia selama perjuangan delapan bulan terakhir.

 

“Kami bukan pengemis negara. Kami mitra yang memiliki perjanjian. Jika negara memperlakukan mitranya seperti ini, lalu apa artinya komitmen pemerintah terhadap program nasional?” tegas Herwil.

 

Hingga sore hari, situasi di lokasi masih tegang. Aparat keamanan tetap menjaga ketat gerbang masuk, sementara para peserta aksi memilih bertahan di luar dengan duduk di tanah.

 

APGI 3T menyatakan akan terus melanjutkan aksi secara damai, namun mendesak Kepala BGN yang baru untuk segera membuka ruang dialog sebelum situasi semakin memburuk.

News Feed